Gandeng Korea Selatan, Studi Bersama Kilang Minyak di Dumai Ini Menelan Dana Senilai Rp15,6 Miliar, Fungsinya…

inNalar.com – Dumai merupakan salah satu kota di Provinsi Riau yang kaya akan sumber daya alamnya.

Hal tersebut terbukti dengan keberadaan kilang minyak disana yang dikenal dengan nama kilang minyak Putri Tujuh Dumai.

Dilansir inNalar.com dari pertamina.com, berbagai produk bahan bakar minyak dan non bahan bakar minyak telah dihasilkan dari kilang minyak tersebut.

Baca Juga: Targetkan Nilai Kontrak Mencapai Rp7,48 Triliun pada 2024, PT Wijaya Karya Beton Tbk (WTON) Catatkan Penurunan Drastis Laba Bersih

Kemudian, produknya telah didistribusikan ke berbagai pelosok tanah air dan luar negeri.

Sejak beroperasi pada tahun 1971, kilang minyak ini telah memberikan sumbangan yang nyata terhadap kemajuan daerah khususnya kota Dumai.

Pengelolaannya dipercayakan kepada PT Kilang Pertamina Internasional atau KPI.

Baca Juga: Besaran Aset Anjlok, PT Wijaya Karya Beton Tbk (WTON) Mencatatkan Nilai Kontrak Baru Senilai Rp6,6 Triliun

Kini, kilang minyak tersebut nantinya akan direvitalisasi yang perencanaannya telah dimulai pada tahun 2021 lalu.

Proses revitalisasi tersebut dikerjakan oleh PT Nindya Karya terkait proyek modernisasi ini.

Selain itu, proyek modernisasi ini juga bekerja sama dengan perusahaan asal Korea Selatan yakni DH Global.

Baca Juga: Dibangun Malaysia, Pabrik Kelapa Sawit di Kalimantan Barat Malah Terlilit Hutang Rp32 Miliar Hingga Bangkrut

Pada tahun 2021 lalu, telah dilakukan studi bersama proyek tersebut dan menelan dana hingga 1 juta USD atau setara dengan Rp15,6 miliar.

Dana tersebut bersumber dari hasil patungan dari KPI, Nindya Karya, dan DH Global.

Rinciannya, DH Global berkomitmen untuk menyumbang sekitar 650 ribu USD.

Selanjutnya, sisa 350 ribu USD dibagi antara Kilang Pertamina dan Nindya Karya.

Baca Juga: Mundur Teratur! Manchester City Dianggap ‘Cekik’ Barcelona Soal Kesepakatan Kalvin Phillips di Bursa Transfer Januari

Studi bersama tersebut tentunya sangat penting guna meyaknikan investor lain untuk masuk ke dalam proyek tersebut.

Hal tersebut dikarenakan para investor tengah menunggu hasil perdebatan terkait penggunaan energi terbarukan dan energi fosil.***

Rekomendasi