Gaet Emiten Singapura, Telkom Bidik Batam Guna Ekspansikan Hyperscale Data Center Senilai US$ 198 Juta Berkapasitas Ultimate 51 MW IT Load

inNalar.com – PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk melalui anak perusahaannya tengah membidik Batam untuk mengisi peran strategis industri data center di Indonesia.

Guna menggenggam pasar yang lebih meluas, anak usahanya, yakni PT Telkom Data Ekosistem (NeutraDC) menggaet emiten telekomunikasi Singapura.

Jadi NeutraDC menjalin kerja sama dengan salah satu perusahaan afiliasi Singtel bernama ST Dynamo ID Pte Ltd.

Baca Juga: Diperkirakan Habiskan Biaya Rp5 Triliun, Proyek Pelabuhan Baru di Ambon Disebut Terkendala Bom Peninggalan Penjajahan Jepang di Dasar Laut

Kerja sama dari kedua negara itu dalam rangka menggarap proyek pembangunan Hyperscale Data Center di Kabil Integrated Industrial Estate (KIIE), Batam.

Selain itu, anak usaha Telkom ini juga bekerja sama dengan perusahaan energi nasional PT Medco Power Indonesia.

Dalam proyek pembangunan Hyperscale Data Center (HDC) di Batam, PT Medco Power Indonesia berperan sebagai pemasok kebutuhan listriknya.

Baca Juga: Gandeng Korea Selatan, Studi Bersama Kilang Minyak di Dumai Ini Menelan Dana Senilai Rp15,6 Miliar, Fungsinya…

Adapun pasokan listrik nantinya akan dipastikan menggunakan sumber energi baru terbarukan.

Apabila menilik dari genggaman saham masing-masing pihak dalam proyek HDC ini, Telkom tetap menjadi pemilik saham terbesar, yakni 60 persen.

Sementara perusahaan telekomunikasi Singapura Singtel menggenggam 35 persen saham, dan Medco sebesar 5 persen.

Baca Juga: Targetkan Nilai Kontrak Mencapai Rp7,48 Triliun pada 2024, PT Wijaya Karya Beton Tbk (WTON) Catatkan Penurunan Drastis Laba Bersih

Nantinya, infrastruktur pusat data berskala besar yang akan dibangun di Batam ini bakal memiliki kapasitas ultimate 51 Mega Watt (MW) IT Load.

Namun demikian, kapasitas awalnya nanti masih sebesar 17 MW dengan target pasar dua negara sekaligus, baik untuk Batam mau pun Singapura.

Pembangunan infrastruktur pusat data berskala besar ini diketahui akan menerapkan konsep green data center.

Baca Juga: Besaran Aset Anjlok, PT Wijaya Karya Beton Tbk (WTON) Mencatatkan Nilai Kontrak Baru Senilai Rp6,6 Triliun

Jadi nantinya penggunaan teknologi dan strategi desainnya akan dirancang penuh dengan meminimalisir dampak lingkungan.

Artinya Telkom dan Singtel akan bersama mengupayakan penggunaan sumber daya bersumber dari energi bersih dan manajemen limbah yang bertanggung jawab.

Sehingga investasi proyek ini akan menelan biaya yang tidak sedikit, yaitu sebesar US$ 198 juta.

Baca Juga: Dibangun Malaysia, Pabrik Kelapa Sawit di Kalimantan Barat Malah Terlilit Hutang Rp32 Miliar Hingga Bangkrut

Ke depannya, diharapkan dengan adanya proyek pembangunan infrastruktur pusat data yang baru ini mampu menjadikan Batam sebagai pusat teknologi baru berskala besar.

Pasalnya letak strategis kota ini diharapkan bisa mengekspansikan market data center hingga kawasan Asia Tenggara melalui Singapura.

Harapan jangka panjang dari proyek kolaborasi antara ketiga belah pihak, potensi besar pasar industri pusat data yang masih lapang peluangnya ini dapat dimaksimalkan.

Baca Juga: Molor! Proyek Jembatan di Kediri Ini Sempat Mangkrak Karena Dikorupsi Rp7 Miliar, Namanya…

Melansir dari situs Telkom, penelitian terbaru para ahli industri di bidangnya mengungkap bahwa Batam dapat menjadi peluang besar untuk ekspansikan operasi data center hingga Kawasan Asia Tenggara.

Sebagai informasi tambahan, Telkom mengalami kenaikan aset data center per sembilan bulan terakhir 2023 sebesar Rp3,51 triliun.

Catatan aset dari PT Telkom Data Ekosistem ini mengalami peningkatan dari periode sebelumnya yang besarannya Rp3,2 triliun.***

Rekomendasi