
![[Fiksi Mini] Di Gerbong Panjang](https://www.innalar.com/wp-content/uploads/2022/02/1133235163.jpg)
1. Gaun
Aku tertegun menatap diriku di cermin. “Betapa cantiknya aku,” gumamku. Aku terus mematut-matut diriku, gaun yang kukenakan begitu pas dengan tubuhku yang tinggi semampai indah. Tak lupa gincu merah merona kupoleskan di bibirku. Sempurna.
BRAKKK !!!
Tiba-tiba ibuku masuk ke kamarku dengan wajah seperti marah.
“Lagi-lagi kamu mengulangi perbuatanmu,” ucap ibu sambil menghampiriku.
Aku hanya terdiam dengan tubuh gemetar.
“Kembalikan gaun ibu!” teriak ibu.
Aku menggeleng tanda tidak mau.
“Kamu tak sepatutnya memakai gaun ini!” ulangnya dengan nada geram. Lagi-lagi aku hanya menggeleng keras hampir menangis.
“Cepat kembalikan gaun ibu, BAMBANG!!!”
2. Di Gerbong Panjang
Tubuhku menegang, diantara orang-orang yang berdiri diatas gerbong besi panjang. Seolah tak mengerti keadaanku yang sedang gamang, oleh pekerjaan di kantor yang banyaknya bukan kepalang. Orang-orang menjepit dan mendorong tubuhku dengan garang, tak peduli lagi akan keselamatan penumpang.
Senja sudah menerawang, pertanda malam akan segera datang. Matahari hampir tertutup oleh awan yang mengambang. Di balik kaca bisa kulihat kereta yang berlalu lalang, penuh oleh insan yang bertaruh mencari uang, demi keluarga di rumah tersayang.
Hmm… hidup penuh dengan perjuangan memang. Apalagi di ibu kota Jakarta yang penuh persaingan tidak lebih tidak kurang. Sampai ada yang rela lembur dan begadang, demi segepok uang.
Baca Juga: Rusia Jatuhkan Rudal di Ukraina, Disebut Sebagai Invasi Terbesar Sejak Perang Dunia 2
Keretaku melaju perlahan menuju stasiun Cawang. Masinis mengerem kemudinya seiring dengan bunyi sirine khas stasiun yang berdentang. Para penumpang yang sudah lama menunggu datangnya si gerbong panjang berdesak-desakan berebut agar mendapat tempat yang lapang. Namun sia-sia karena dari stasiun Manggarai saja kursi dan tempat berdiri saja sudah dipenuhi oleh kaki berpasang-pasang.
Beberapa wanita paruh baya mencoba menerobos masuk kereta dengan mendorong penumpang lain dengan kencang. Tubuhku yang kecil semakin terjepit oleh penumpang lain yang brutalnya semakin menantang.
Tanganku berpegangan pada sebuah tiang, berharap agar aku bisa menahan situasi yang semakin tegang. Aku tak kuasa lagi sekarang, tubuhku terjatuh seakan melayang, otakku mengawang awang. Di atas kepalaku banyak bintang-bintang.
Baca Juga: KADIN dan Kejagung Akan Berikan Edukasi Hukum soal Peraturan UU Cipta Kerja Kepada Para Pengusaha
3. Anjing
Melewati padang rumput yang luas menjadi keasyikan tersendiri buatku. Kesempatan yang tak akan aku sia-siakan ketika teman-temanku mengajak liburan ke suatu tempat yang belum pernah aku kunjungi. Jalan cukup lengang, sepi pengendara. Deddy, temanku yang bertugas menjadi supir mengendarai carry-nya dengan kecepatan cukup tinggi.
Gelak tawa, saling meledek merupakan hal yang biasa yang terjadi dalam persahabatan kami berlima. Aku sibuk bercanda dengan Teguh yang duduk tepat di sampingku. Ada saja yang menjadi bahan obrolan kami.
“Anjing!” ujarku tiba-tiba.
Semua menoleh. Laju mobil agak oleng.
Baca Juga: 4 Cara Cek Kepesertaan BPJS Kesehatan, Aktif atau Tidak?
“Apa kamu bilang?” Teguh menyenggol bahuku cukup keras.
“Kamu berani menyebut aku anjing? Tidak sopan sekali kamu bicara. Kamu pikir aku terima kamu sebut begitu? Boleh saja kita bercanda tapi jangan kelewatan!”
Teguh mencak-mencak memarahiku. Wajahnya dipalingkan dari hadapanku. Memerah marah.
“Bu ..bukan .. Maksudku .. tadi ada anjing doberman menyeberangi jalan,” jawabku terbata-bata.
Deddy nyengir. Teguh memerah malu.***