

InNalar.com – Pasca pelantikan PJ Gubernur Sulawesi Selatan, Bahtiar Baharuddin pada 5 September 2023 lalu. PJ Gubernur ini langsung bergerak membuat gebrakan baru.
Salah satunya, dengan membuat program Budidaya pisang yang rencana penanamannya di atas lahan seluas 500 hingga 1 juta hektare.
Sehingga, Sulawesi Selatan nantinya bisa diharapkan manjadi penghasil pisang nomor 1 di dunia.
Hal tersebut sendiri terinspirasi dari salah satu negara di Asia Tenggara, yaitu Negara Filipina.
Dimana, Filipina menjadi negara penghasil pisang nomor 2 di dunia setelah Ekuador yang menempati posisi pertama.
Luas lahan yang dimiliki Filipina sekitar 450 hektare. Oleh sebab itu, jika Provinsi ini menanam di atas 500 hektare. Maka, kemungkinan bisa menggeser posisi Filipina dalam hal eksportir.
Adapun, anggaran untuk Budidaya pisang tidak tanggung-tanggung karena mencapai 1 Triliun Rupiah.
Kemudian, akan dianggarkan melalui APBD tahun 2024 mendatang.
Sementara itu, untuk alokasi anggaran jangka pendek budidaya pisang tahun 2023 ini sebesar 30 miliar rupiah.
Penanaman perdana pohon pisang sendiri, sudah dilakukan sejak 7 Oktober 2023 di Kecamatan Mare, Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan.
Jika upaya penanaman tersebut berjalan dengan lancar, maka sekitar bulan Maret 2024 sudah bisa melakukan panen.
Program Budidaya Pisang merupakan salah satu upaya memaksimalkan potensi yang ada di Sulawesi Selatan.
Diketahui saat ini terdapat 65 negara yang memerlukan buah itu dalam jumlah banyak.
Namun, Indonesia hanya mampu melakukan eskpor sebanyak 1 persen, berdasarkan permintaan negara-negara tersebut.
Oleh sebab itu, Indonesia masih memiliki kesempatan sebesar 99 persen untuk memenuhi pasokan pisang berbagai negara.
Bahkan, perusahaan swasta baik nasional maupun lokal dihimbau untuk melakukan investasi pada program tersebut.
Hal tersebut karena program budidaya ini juga memerlukan investasi, agar bisa berkembang terus menerus.
Wamendes PDTT sendiri mendukung adanya program Budidaya Pisang oleh Pemerintah Sulawesi Selatan.
Program Budidaya pisang dianggap efektif, dan bisa mengurai permasalahan seperti kemiskinan, stunting, hingga pangan.
Ditambah lagi pisang menjadi suatu komoditas, yang secara kultural dekat dengan masyarakat Sulawesi Selatan.
Apalagi, pohon pisang merupakan salah satu tanaman yang dianggap mudah berkembang di tanah sana.
Diketahui, untuk negara penghasil pisang terbesar di dunia pada tahun 2022 ialah India dengan angka produksi sekitar 31 juta ton pisang.
Disusul Tiongkok dengan angka produksi sekitar 11 juta ton pisang.
Indonesia sendiri berada di posisi ketiga dengan angka produksi lebih dari 8 juta ton pisang.
Kemudian, ada Brazil dengan angka produksi sekitar 6,6 juta ton, Ekuador sekitar 6 juta ton dan Filipina dengan angka produksi sekitar 5,9 juta ton pisang.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) 2022, Jawa Timur masih menempati posisi pertama sebagai provinsi penghasil pisang terbesar nasional dengan angka produksi mencapai 2,62 juta ton atau setara denegan 28,35% dari total keseluruhan produksi pisang di Indonesia.
Posisi kedua diikuti oleh Provinsi Jawa Barat dengan angka produksi sekitar 1,31 juta ton pisang. Lalu diposisi ketiga ada Provinsi Lampung dengan angka produksi sekitar 1,22 juta ton pisang.
Bahkan berdasarkan data BPS 2022 Sulawesi Selatan berada di posisi kesembilan dengan angka produksi sekitar 177,7 ribu ton pisang.
Sementara itu, berdasarkan data BPS untuk tahun 2020, terdapat beberapa wilayah di Provinsi Sulawesi Selatan yang mempunyai produksi pisang tinggi.
Misalnya, Kabupaten Pinrang dengan jumlah produksi 357 513 kuintal, Bone sebesar 271 900 kuintal, Barru sejumlah 117 466 kuintal dan Gowa sebesar 102 731.
Selain 4 kabupaten tersebut, produksi pisang berada di bawah 100 kuintal.***