

inNalar.com – Bali memang populer di kalangan turis mancanegara maupun wisatawan lokal karena tetap memegang teguh kebudayaan mereka meski telah menjadi tempat wisata.
Tidak terkecuali Desa Panglipuran di Bangli, Bali, yang sudah diresmikan menjadi desa wisata sejak tahun 1993 dan mendapatkan gelar sebagai “Desa Terbersih di Dunia” pada tahun 2016.
Dilansir dari kanal YouTube @Ricsnt, desa ini dibangun dengan konsep unik bernama “Tri Mandala,” yang membagi tata ruang desa menjadi tiga wilayah berbeda.
Baca Juga: 38,3 Km dari Palangkaraya, Jembatan Tumbang Nusa Jadi yang Terpanjang di Kalimantan Tengah?
Wilayah pertama adalah “Utama Mandala,” di mana terdapat tempat ibadah, seperti pura, berdiri di atas atau paling tinggi dari bangunan lainnya. Tempat ini dianggap suci dan dimanfaatkan untuk beribadah.
Selanjutnya, ada “Madya Mandala,” yaitu zona tengah, merupakan pemukiman penduduk dengan rumah-rumah tradisional berjejer di sepanjang jalan utama yang menjadi pusat kegiatan sehari-hari warga Desa Panglipuran.
Yang terakhir adalah “Nista Mandala,” yaitu tempat khusus untuk pemakaman warga. Dengan adanya konsep Tri Mandala ini, desa memberikan kesan estetis dan simetris, membuatnya tampak teratur dan indah bagi mata pengunjung.
Jalan utama Desa Panglipuran memiliki kemiringan yang sedikit dan tidak bisa dilalui oleh kendaraan bermotor seperti mobil atau sepeda.
Oleh karenanya, jalan desa tidak ada kendaraan dan hanya diperuntukkan bagi pejalan kaki, ditambah sepanjang jalan terdapat beragam tanaman dan tumbuhan, menambah pesona alam desa ini.
Selain keindahan alamnya, daya tarik lain dari Desa Panglipuran adalah kesadaran tinggi warganya dalam menjaga lingkungan.
Mayoritas warga desa ini menganut agama Hindu Bali dan memiliki tradisi turun-temurun dalam menjaga alam dan makhluk hidup di sekitarnya.
Setiap pagi dan sore hari, mereka melakukan gotong-royong membersihkan desa dari sampah.
Sampah yang dihasilkan warga Desa Panglipuran dikelola secara bijaksana. Sampah organik dikumpulkan dan diolah menjadi pupuk yang digunakan untuk menyuburkan tanaman di desa.
Pupuk organik tersebut bahkan ada yang dijual untuk membiayai operasional tempat pengolahan sampah organik.
Sampah plastik, sebagai masalah global yang mendesak, juga tidak dibiarkan begitu saja.
Warga mengumpulkan sampah plastik dan mengirimkannya ke tempat daur ulang di Denpasar.
Sampah plastik ini diolah dan digunakan kembali, membantu mengurangi dampak negatifnya terhadap lingkungan.
Daya pikat utama dari Desa Panglipuran ini adalah kesadaran warganya dalam hidup berdampingan dengan alam.
Mereka memiliki pemahaman yang mendalam tentang pentingnya menjaga lingkungan, dan itulah yang menjadikan desa ini dinobatkan sebagai Desa Terbersih di Dunia.
Pengakuan internasional dan ketertarikan wisatawan telah memberikan dampak positif bagi Desa Panglipuran.
Kehadiran wisatawan memberikan kontribusi pada perekonomian desa dan membangkitkan kesadaran akan keberlanjutan lingkungan.
Terlepas dari kesan positif yang mendalam atas kebersihan dan keindahan Desa Panglipuran, kita diajak untuk merenung tentang kepedulian terhadap alam dan keberlanjutan lingkungan.
Semoga Desa Panglipuran menjadi contoh bagi desa-desa lain di Indonesia dan dunia, bahwa dengan menjaga lingkungan dan hidup selaras dengan alam, kita dapat menciptakan tempat tinggal yang indah dan lestari untuk generasi mendatang.***
Dapatkan promo spesial sebelum Anda pergi