FAKTA TERBARU, Hasil Autopsi Ulang Jasad Juliana Marins di Brasil Berbeda dengan Autopsi di Indonesia


inNalar.com – 
Peristiwa tewasnya pendaki asal Brasil, Juliana Marins (26), saat mendaki Gunung Rinjani, Lombok, pada 21 Juni 2025, sempat mengundang perhatian publik dan menyebar luas di media sosial.

Kini, hasil otopsi resmi dari Tim Forensik Brasil telah memperjelas penyebab pasti kematiannya dan memperkuat hasil temuan dari tim forensik Indonesia.

Sebelum hasil otopsi diumumkan ke publik, Tim Forensik Brasil telah lebih dulu melakukan pemeriksaan menyeluruh terhadap jenazah Juliana setelah dipulangkan ke Rio de Janeiro. Menariknya, temuan mereka konsisten dengan hasil yang sebelumnya dilakukan di RSUD Bali Mandara.

Baca Juga: Cek Fakta: Gaji PNS Naik 280 Persen Tahun Depan, Ini Penjelasan Resmi Sri Mulyani

Kedua tim forensik sepakat bahwa Juliana Marins meninggal akibat luka parah akibat jatuh dari tebing, dengan penyebab utama adalah trauma tumpul dan pendarahan internal masif di berbagai organ vital.

Temuan tersebut dikatakan secara ilmiah menepis dugaan-dugaan yang sempat berkembang liar di publik, termasuk spekulasi mengenai hipotermia atau kelalaian tim SAR.

Kronologi sinkatnya,Juliana diketahui mendaki pada pagi hari, 21 Juni 2025, Bersama rombongan sedang di “Leter E” yang dikenal jalur ekstrem. Di saat proses pendakian Juliana dilaporkan terpelset dan jatuh ke jurang.

Baca Juga: Profil dan Biodata Arya Daru Pangayunan, Diplomat Muda Kemlu Tewas Kepala Terbungkus Lakban

Alhasil, tim pencarian dan tim penyelamatan langsung sigap menangani peristiwa tersebut. Dan dikala pencarian para tim sempat mengalami kendala akibat cuaca buruk melanda ke medan yang curam diselimuti kabut tebal.

Setelah empat hari pencarian intensif, jenazahnya ditemukan pada 24 Juni 2025. Otopsi kemudian dilakukan di Bali pada 26–27 Juni 2025.

Bedasarkan hasil resmi dari keterangan pakar forensic Indonesia, Dr. Ida Bagus Putu Alit, Bahwa Juliana mengalami benturan keras di bagian organ tubuh akibat tulang bagian dada, punggung, panggul, dan paha mengalami patah tulang.

Baca Juga: Bukan di Makassar, Ini Dia 5 SMP Paling Sering Menyabet Prestasi Internasional di Sulawesi Selatan

Setelah alami benturan keras, pada bagian tubuh mengalami pendarahan hebat di rongga dada, perut hingga tulang belakang dan akhirnya korban diperkirakan meninggal dalam Waktu singkat kurang lebih 10-20 menit setelah menderita akibat jatuh.

Tim forensic Brasil juga memiliki hasil temuan dari otopsi, mereka juga mengkonfirmasi bahwa, Juliana mengalami cedera parah pada tulang tengkorak, dada, panggul, tulang belakang, serta bagian organ vital lainya.

Terkait kematian juga disebabkan terjadinya luka yang berpengaruh trauma berat akibat syok mengalami kesakitan pada bagian kerusakan sistematik dan pendarahan.

Kesesuaian hasil otopsi dari dua negara ini menjadi penanda penting dalam praktik medis forensik lintas negara. Baik Indonesia maupun Brasil menunjukkan kerja sama yang transparan dan berbasis ilmiah.

Pakar forensik Indonesia bahkan menegaskan bahwa dunia forensik selalu bersifat netral dan objektif, tak bisa diarahkan oleh tekanan luar. Pernyataan ini menjadi sangat penting di tengah spekulasi media dan desakan politik dari beberapa pihak.

Kasus tragis ini menjadi pengingat penting, khususnya bagi para pendaki pemula maupun pendaki professional, untuk benar-benar mempersiapkan diri secara matang, baik fisik maupun mental, sebelum mendaki gunung, apalagi jika gunung yang ingin didaki ternilai ekstrem.

Masyarakat umum pun perlu sadar bahwa mendaki bukan sekadar wisata alam, melainkan kegiatan penuh risiko yang harus disertai kehati-hatian dan kepatuhan terhadap prosedur keselamatan.***(Ahmad Nuryogi Ardiansyah)