

inNalar.com – Bagi sebagian besar orang biasanya akan menganggap lalat buah hanya sebatas mahluk yang hidup di sekitar buah-buahan, tetapi ternyata tidak demikian dengan NASA.
NASA justru melirik lalat buah menjadi objek eksperimen dalam rangka memulai proyek besar pengiriman astronot ke ruang angkasa.
Pasalnya, hewan kecil bersayap ini dinilai NASA memiliki kemiripan gen penyakit manusia sebesar 75 persen.
Selain itu, lalat buah juga disebut memiliki sistem tubuh yang lebih sederhana dibanding mamalia.
Meski begitu, terdapat komponen fungsional, struktural, dan genetik yang mirip di antara hewan mungil ini dengan hewan mamalia.
Hewan lalat buah dipilih NASA disebabkan sejumlah alasan penting guna mempelajari biologi tubuh astronot manusia di ruang angkasa.
Baca Juga: Ternyata Ada Penawar Penyakit di Tubuh Manusia yang Mudah Ditemui, dr Cahyono Ungkap Rahasianya
Dikutip inNalar.com dari laman resmi NASA, “Sekitar 75 persen gen penyakit manusia mempunyai persamaan gen yang ada di dalam tubuh lalat buah, sehingga dengan mempelajari hewan tersebut kita juga bisa memahami biologi manusia juga.”
Meski astronot hewan pertama yang lebih dikenal adalah monyet bernama Albert, tetapi lalat buah merupakan hewan paling pertama yang dikirim NASA ke ruang angkasa.
Faktor usia lalat buah yang pendek membuat para astronom mampu mempelajari beberapa generasi lalat buah dalam sebulan.
Baca Juga: Proyek PLN Sinergi dengan Kantor Pertanahan Lamongan, Pergerakan dalam Sukseskan Strategis Nasional
Alasan utama NASA memilih lalat buah adalah untuk mengungkap bagaimana cara mengatasi dampak jangka panjang misi luar angkasa terhadap tubuh astronot.
Selain itu, pihaknya juga turut berniat mengungkap cara tubuh manusia nantinya merespon lingkungan baru yang penuh dengan tekanan.
Penelitian dengan objek yang cukup mungil dengan gerakan yang gesit ini membuat pihaknya perlu memutar otak bagaimana cara untuk menembakkannya ke luar angkasa.
Pada tahun 20 Februari 1947, tepat sebelum NASA mengirimkan astronot monyet Albert 1 ke luar angkasa, lalat buah akhirnya diluncurkan dengan menggunakan roket buatan Nazi.
Lalat buah ini diluncurkan ke luar angkasa hingga ketinggian 42 mil dengan roket V-2. Bersamaan dengan hewan ini, turut dikirim pula sampel biologi lainnya.
Sampel biologi lainnya yang mendampingi lalat buah, yaitu biji gandum dan kapas yang digunakan untuk mempelajari dampak sinar kosmik pada organisme hidup.
Pada akhirnya, lalat buah yang diluncurkan NASA telah berhasil kembali ke bumi dengan selamat.***