Fakta Menarik Dibalik Kesegaran Air Wisata Pemandian Banyu Biru Pasuruan, Wisatawan Patut Waspada!

inNalar.com – Jika sedang berlibur ke Jawa Timur tidak ada salahnya mencoba salah satu wisata Pemandian Banyu Biru Pasuruan.

Pemandian Banyu Biru di Pasuruan Jawa Timur ini dipercaya masyarakat dapat membuat awet muda.

Lokasi tepatnya berada di Desa Sumberejo Kecamatan Winongan Kabupaten Pasuruan Jawa Timur.

Baca Juga: 5 Kebun Binatang di Jawa Timur yang Patut Dikunjungi Bersama Anak, Salah Satunya Terbesar di Asia Tenggara!

Ada beberapa fakta dibalik keindahan yang disuguhkan wisata Pemandian Banyu Biru Pasuruan ini, adapun ulasannya sebagai berikut.

1. Sudah ada Sejak Masa Kerajaan Majapahit

Saat ini Banyu Biru Pasuruan menjadi objek pemandian untuk wisatawan

Namun dahulu digunakan untuk tempat peristirahatan dan pemandian untuk para raja dan petinggi kerajaan Majapahit.

Baca Juga: Berdiri Kokoh Sejak 1906, Jembatan di Jawa Barat ini Simpan Perjalanan Panjang di Dunia Kereta Api Indonesia

Ketika berendam atau berenang biasanya wisatawan akan melihat beberapa serpihan patung sisa Majapahit disini

2. Membuat Awet Muda dan Sembuhkan Penyakit

Sumber air pemandian Banyu Biru berasal dari mata air alam secara langsung.

Tidak heran jika air nya memang segar dan berkhasiat. Namun air tisak biaa di bawa pulang.

Baca Juga: Jadi Kota Terkaya di Indonesia, Kediri Bangun Bandara Internasional Senilai Rp 10 Triliun Tanpa APBN

Jika dibawa pulang dipercaya akan menyebabkan kesialan atau celaka bagi pelakunya.

3. Ikan Tombro Keramat 

Ketika berkunjung ke Banyu Biru Pasuruan, wisatawan akan disuguhkan ratusan hingga ribuan ikan dalam kolam.

Ikan-ikan tersebut jinak namun berbeda cerita jika ingin membawanya pulang atau keluar dari pemandian Banyu Biru ini.

Ada ikan-ikan berwarna hitam atau biasa disebut ikan tombro yang dipercaya keramat.

Konon ikan tersebut dianggap sebagaj ikan dewa. Itulah alasan tidak boleh menggangunya.

Di balik keindahan dan kisah mistisnya, Banyu Biru Pasuruan selalu ramai pengunjung.

Selain berkunjung atau berwisata ada pula yang melakukan suatu ritual kepercayaan mereka.***

(Melin Cahya Islachlaila)

 

Rekomendasi