
inNalar.com – PT Freeport Indonesia (PTFI), yang notabene-nya dikenal sebagai emiten tambang emas terbesar yang sering mendulang profit miliaran dollar, kini mereka mengemban misi keberlanjutan lingkungan global dengan program ambisius ‘restorasi mangrove’ di kawasan pesisir Mimika. Penasaran?
Menyadur konten Youtube PT Freeport Indonesia, diketahui bahwa emiten tambang Freeport telah menerapkan good mining practice dalam setiap jengkal operasionalnya.
Termasuk dalam pengelolaan tailing untuk mempercepat kolonisasi alami tanaman mangrove sejak tahun 2004 lalu dengan cakupan area seluas 8.000 hektare.
Baca Juga: Kalah Telak Atas Liverpool, Ange Postecoglou Keukeh Tak Akan Rubah Strategi Awal
Sebagai tambahan informasi, sejak tahun 2005 hingga sekarang, PTFI telah menjalankan revegetasi lahan terbentuk seluas 953.59 hektare dan masih akan terus bertambah hingga nanti.
Robert Sarwom, General Superintendent Reklamasi and Project Environmental Division PT Freeport Indonesia, menjelaskan bahwa pihaknya telah menjalin kemitraan strategis dengan beberapa lembaga untuk menunjang keberhasilan program restorasi mangrove.
“Untuk merestorasi lingkungan, PTFI meluncurkan program Estuary Structure untuk merestorasi lingkungan,” ujarnya, dikutip dari laman resmi ptfi.co.id.
Baca Juga: Jelang Laga Inter Milan vs Como Liga Italia, Pelatih Inzaghi Ragukan De Vrij dan Darmian Tampil
Keterlibatan masyarakat lokal ini dinilai penting, selain untuk menunjang keberhasilan restorasi mangrove, PTFI juga telah merealisasi upaya pemberdayaan yang nantinya bisa memberikan manfaat sebesar-besarnya ke masyarakat Kamoro sendiri.
Robert juga menyebutkan tujuan PTFI membangun proyek ambisius ini, yaitu untuk menangkap sedimentasi tailing yang memiliki ukuran partikel paling halus agar dapat kembali dimanfaatkan dan dibentuk menjadi daratan yang rencananya akan kembali ditanami oleh mangrove dengan metode struktur geotab dan struktur bambu.
Geotab ini rencananya akan dibentangkan di sepanjang garis pantai agar bisa menangkap dan menahan sedimen.
Baca Juga: Layak Dikoleksi, Keunikan Uang Kuno Rp1000 Sisingamangaraja tahun 1987 Nggak Main-Main!
Sementara bambu akan ditanam ke dasar tanah dengan kedalaman 200 cm, formasinya adalah berjejer dua lapis yang juga diselingi dengan debris, tujuannya untuk menahan endapan tailing.
PT Freeport Indonesia mengklaim penerapan kedua metode ini akan membawa hasil yang baik, karena endapan permanen bisa membentuk daratan yang lebih stabil.
Dengan adanya restorasi mangrove ini, besar harapan PT Freeport Indonesia agar program Estuary Structure ini bisa memberikan efek domino dan manfaat bagi masyarakat Papua, karena limbah tambang sudah bisa dipastikan tidak akan lagi mencemari air laut. ***