

inNalar.com – Terjadi lagi, aksi klitih di Yogyakarta. Kali ini, aksi tidak manusiawi tersebut terjadi di Nol Kilometer Jogja.
Para pelaku klitih menyerang korban sekitar pukul 4 pagi, di Nol Kilometer Jogja setelah sebelumnya sempat membututi dengan sepeda motor.
Terungkap, korban aksi klitih di Nol Kilometer Jogja tersebut ternyata dua orang mahasiswa yang berkuliah di Yogyakarta.
Hal tersebut diketahui dari unggahan video yang diunggah oleh akun Instagram @merapi_uncover pada Rabu, 8 Februari 2023.
Sontak saja, kejadian kekerasa yang menimpa dua orang mahasiswa tersebut viral dan ramai diperbincangkan di berbagai platform media sosial.
Diketahui, identitas korban pertama bernama Raziq Kurniadi (18), laki-laki asal Sumbawa. Korban kedua bernama Gibran Denandra Pambudi (19), laki-laki berasal dari Batam.
Sementara itu, identitas pelaku kekerasan jalanan ini belum diketaui karna masih diselidiki oleh pihak berwajib.
Kronologi Kejadian Klitih di Nol Kilometer Jogja
Kejadian ini bermula dari dua orang penggendara motor yang dibuntuti orang tidak dikenal yang mengendarai motor Honda Scoopy merah.
Korban mulai dibuntuti dari Jembatan Kliringan, Jl. Malioboro hingga sampai di Simpang Nol Kilometer Jogja.
Sambil melakukan aksi di atas motornya, pelaku menabrak dan mengajak korban untuk berkelahi.
Baca Juga: Ternyata Jogja Istimewa sampai Pukul 10 Malam Saja Selebihnya Milik Klitih, lha Kok Bisa?
Namun, korban tidak melayaninya dan mengatakan, “Omongin baik-baik, nggak usah teriak-teriak.”
Setelah itu, korban berjalan ke arah Utara. Tepatnya di sekitar pedestrian depan Monumen Serangan Umum 1 Maret.
Korban berinisiatif menghubungi temannya untuk meminta bantuan. Tidak lama setelah itu, saat korban hendak mengambil motornya yang berada di tepi jalan, datanglah pelaku menghampiri korban.
Para pelaku klitih tersebut menganiaya dengan memukul hingga menyabetkan celurit kepada salah satu korban.
Beruntung, korban menggunakan helm sehingga saat pelaku menyerang kepala dengan celurit, tidak ada luka serius.
Namun, akibat aksi kejahatan tersebut, korban mengalami luka memar di wajah dan matanya. Ditambah lagi terdapat luka di punggung kanan serta kiri akibat benda tajam.
Aksi bacok dan tabrak yang dilakukan pelaku klitih di Nol Kilometer Jogja bukan yang pertama kalinya di Yogyakarta.
Fenomena sosial yang telah menelan banyak korban bahkan merenggut nyawa ini hingga kini belum dapat teratasi dengan baik.
Klitih bahkan mengubah slogan ‘Kota Pelajar’ dan ‘Jogja Istimewa’ tidak lagi merdu didengar.
Jika tidak segera diselesaikan, bukan tidak mungkin Yogyakarta yang ‘Berhati Nyaman’ justru akan berubah sebaliknya.***