Dulunya Kumuh dan Diejek Negara Asing, 3 PLBN Indonesia Ini Sekarang Tampak Megah, Kalimantan Barat Termahal?


inNalar.com – Setiap negara pasti memiliki Pos Lintas Batas Negara atau PLBN, termasuk Republik Indonesia.

Jumlah PLBN di Indonesia yang rampung digarap hingga tahun 2023 ada 13. Pembangunan pos ini dibagi menjadi 2 gelombang.

7 PLBN dibangun pada gelombang I, yaitu Entikong, Aruk, Motaain, Motamasin, Badau, Skouw, dan Wini.

Baca Juga: Teka-teki Mati, Anak Soeharto Jadi Dalang Kasus Korupsi Bahkan Pembunuhan Hakim, Siapa Korbannya?

Sementara 6 pos lain yang dibangun pada gelombang II adalah Serasan, Sota, Yetet Kun, Napan, Sei Pancang/ Sei Nyamuk, dan Jagoi Babang.

Sebenarnya, Kementerian PUPR merencanakan pembangunan 18 PLBN pada tahun 2023 ini.

Namun, 2 pos masih progres, 2 pos lain belum dilaksanakan karena masalah lahan, dan 1 pos tidak jadi dibangun karena terkendala akses lokasi.

Baca Juga: Telan Dana Rp88 Miliar, Kota Bogor Jawa Barat Bakal Punya Jembatan Layang Baru, Lokasinya Ada di…

Pemerintah memberikan perhatian lebih pada pengembangan PLBN untuk menjaga kedaulatan negara dan meratakan pembangunan infrastruktur.

PUPR juga mengupayakan pembangunan sarana dan prasarana yang dapat memajukan kegiatan sosial ekonomi di kawasan tersebut.

Hal ini mengingat, dulunya sejumlah PLBN di wilayah perbatasan Indonesia disorot negara asing, dicap kumuh, dan menjadi bahan ejekan.

Baca Juga: Sederet 6 Bukti Kekejaman Masa Orde Baru Soeharto yang Otoriter, No 4 Bikin Nyesek Sampai ke Ubun-Ubun!

Dilansir inNalar.com dari video TikTok yang diunggah oleh akun OLEL_LIBRA, dan website resmi PUPR, berikut 3 pos yang dulunya kumuh, tapi sekarang megah:

1. PLBN Entikong

Entikong merupakan pos perbatasan antara Republik Indonesia dengan Malaysia, di Kalimantan Barat.

PLBN ini diresmikan pada tahun 2016. Penampilan yang kumuh dan sangat tidak terawat, menjadikannya sering dibandingkan dengan Malaysia.

Pemerintah menetapkan anggaran dana sebesar Rp 305 miliar rupiah untuk memperbarui pos ini, yakni termahal di Kalimantan Barat.

Anggaran tersebut meliputi biaya pelebaran jalan, penataan dan pembinaan rumah kumuh, dan pembangunan gedung fasilitas seperti masjid.

2. PLBN Nanga Badau

Pos Perbatasan Nanga Badau terletak di kabupaten Kapuas, provinsi Kalimantan Barat.

Pemerintah mengeluarkan dana sekitar Rp300 miliar untuk mengembangkan pembangunan di Nanga Badau.

Pengembangan yang dilakukan di PLBN ini meliputi pembangunan instalasi pengolahan air, pengembangan jaringan pipa, dan pembangunan jalan lingkar.

Sebelum diperbarui, Nanga Badau tampak lusuh, kusam, dengan kondisi cat yang telah memudar.

Proses pelayanan di PLBN ini juga tidak kondusif, perlu memakan proses dan waktu yang lama.

Kini, pos perbatasan yang dikeluhkan dan ‘memalukan’ Indonesia telah menjadi wajah baru yang layak disaksikan negara asing.

3. PLBN Motaain

Pos perbatasan Motaain berada di kabupaten Belu, provinsi Nusa Tenggara Timur dan berseberangan dengan Timor Leste.

Pemerintah menetapkan anggaran sekitar Rp600 miliar untuk memperbarui PLBN sekaligus membangun jalanan sekitar.

Dana tersebut meliputi Rp6,9 miliar untuk pembangunan embung, Rp6,1 miliar untuk sumur bor, dan Rp230,3 miliar untuk tiap jalanan Motaain, Atambua, dan jalan menuju Timor Leste. ***

 

Rekomendasi