

inNalar.com – NTT adalah salah satu provinsi di Kepulauan Nusa Tenggara yang terkenal akan potensi budaya dan pariwisatanya.
Di Nusa Tenggara Timur, terdapat sebuah desa yang unik dan masih lekat akan tradisi dan budayanya.
Desa tersebut dikenal oleh masyarakat sekitar dengan nama Desa Adat Belaraghi.
Desa adat Belaraghi berlokasi di Aimere, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur.
Dari pusat kabupaten menuju ke desa ini, berjarak kurang lebih memakan waktu sekitar satu jam.
Dulunya, lokasi dari desa ini berada puncak Bukit Belaraghi yang menjadi inspirasi nama dari desa tersebut.
Baca Juga: Baru Berusia 3 Tahun, Pabrik Gula Modern Pertama di NTT Ini Sempat Sumbang Rp10 Miliar ke Negara
Namun, sayangnya pada sekitar tahun 1950 desa ini sempat mengalami kebakaran hebat.
Kebakaran hebat tersebut membuat Desa Belaraghi ini harus pindah lokasi ke daerah lereng bukit.
Meskipun sudah direlokasi tetapi. lokasi desa lama masih kerap dikunjungi oleh wisatawan, atau sering disebut dengan Desa Belaraghi Lama.
Padahal, akses jalan ke desa ini juga terbilang cukup sulit, karena jalanan di desa ini masih berbatu, menanjak dan belum beraspal.
Kompleks hunian warga desa ini juga unik dan menjadi salah satu daya tarik utama wisatawan.
Pasalnya, masyarakat membangun rumah dengan pola saling berhadapan dan berderet sejajar di kiri dan kanan jalan, membentang dari arah timur laut ke barat daya.
Warga yang menghuni Desa Adat Belaraghi terdiri dari 3 suku yakni Suku Bawa, Suku Belah, dan Suku Fu’i.
Warga desa ini memiliki tradisi yang cukup unik dan hanya terjadi pada saat turis datang ke desa mereka.
Bila ada turis yang datang, warga akan secara sukarela menyajikan makanan berupa ubi, pisang, dan talas.
Warga juga menyajikan minuman, mulai dari kopi hingga arak tradisional kepada turis yang datang.
Bagi warga desa setempat, turis adalah tamu yang harus dihormati dan disana terdapat pula satu rumah khusus yang digunakan untuk menjamu para turis.
Selain melaksanakan tradisi saat kedatangan turis, warga Belaraghi juga memiliki upacara menyajikan makanan untuk nenek moyang, yang disebut dengan ritual Ti’i Ka Ebunusi.
Ritual tersebut bertujuan sebagai sesembahan untuk leluhur dan meminta berkah sebelum berburu.***
Dapatkan promo spesial sebelum Anda pergi