

inNalar.com – Jasa Presiden Soeharto sangatlah besar bagi kemajuan Republik Indonesia di masa kini. Tak terlepas, dua sosok penting itu juga membuat Soeharto semakin kokoh.
Kekuasaan yang dibangun selama 32 tahun oleh Soeharto bukanlah hal yang mudah. Intrik politik dan kestabilan pemerintahan pada masa itu, menjadi faktor penting.
Keberhasilan dalam puncak kekuasaan terkadang sering membuat orang lupa, bagaimana cara melihat ke-bawah, dan itu juga terdapat dalam diri Presiden Soeharto kala itu.
Baca Juga: Bertambah Rp1,5 Miliar Setelah Menjabat, Total Kekayaan Bupati Magelang Zaenal Arifin Jadi Sorotan!
Manuver yang dibuat, pondasi yang dikokohkan guna menjabat sebagai orang nomor satu seumur hidup, berakhir dengan landing yang kurang baik atas faktor eksternal.
Krisis ekonomi, membuat pondasi dan rancangan Presiden Soeharto harus pupus di tengah perjalanan karirnya sebagai seorang Presiden.
Namun, sorotan publik terhadap kedigdayaan sang maestro Soeharto ada di dua sosok kawannya yang dulu satu angkatan dalam militer.
Ali Moertopo dan Sudjono Humardhani, dua sosok kawan yang bertugas sebagai tangan kanan dan kiri Soeharto dalam menjabat sebagai Presiden.
Penasihat handal yang sering melaporkan berbagai informasi kepada Soeharto, menjadikan stabilitas pemerintahan serta politik yang ada di Indoensia sangat tenang.
Bahkan, tak sedikit gangguan yang muncul secara tiba-tiba akan hilang dalam sekejap pada masa itu.
Opsus (Operasi Khusus) diampu oleh tangan dingin Ali Moertopo, bertindak sebagai Intelejen pribadi milik Soeharto.
Tangan dingin Ali Moertopo mampu memberikan informasi penting, terkait stabilitas pemerintahan Indonesia terhadap Soeharto.
Operandi yang kadang dilakukan guna menyingkirkan lawan main Soeharto dijalankan dengan apik oleh Ali Moertopo sebagai ‘pembersih hama’ di kepemimpinan Presiden Soeharto.
Lalu, tangan kanan Soeharto Sudjono Humardhani menjadi sosok pembisik di bidang ekonomi atau keuangan, serta hal-hal yang bersifat mistik dan spiritual.
Sudjono merupakan kawan bisnis Soeharto ketika masih berada di Jawa Tengah kala itu. Presiden Soeharto menunjuk Sudjono sebagai Aspri, yang memberikan informasi sekaligus masukan.
Hal-hal yang keluar dari Sudjono merupakan hasil analisa dari seorang kawakan yang jeli ketika melihat situasi.
Dua ‘sosok’ itulah yang memiliki peranan penting dalam pemerintahan Presiden Soeharto hingga mampu bertahan selama 32 tahun lamanya.
Bahkan, kekuatan dua orang tersebut mampu mengalahkan pejabat-pejabat pemerintahan yang lain, terutama yang menduduki kursi menteri atau setara dengan menteri.
Kebijakan yang dibuat oleh pemerintah pun juga sering diakusisi oleh dua lembaga tak resmi milik Ali dan Sudjono.
Sehingga tak jarang keputusan yang diambil berbeda dengan pendapat para ahli maupun teknokrat saat itu. ***