

inNalar.com – Insiden kerusuhan di Kanjuruhan, membuat dr Tirta ikut menyoroti dalam sisi kesehatan.
Seusai pertandingan Arema vs Persebaya terjadi kerusuhan yang membuat pihak kepolisian harus menggunakan gas air mata.
Kejadian kerusuhan di Kanjuruhan telah menelan banyak korban jiwa dari pihak suporter Aremania.
dr Tirta menyayangkan adanya penggunaan gas air mata oleh pihak kepolisian dalam meredam kerusuhan di Kanjuruhan.
Dikutip inNalar.com dari postingan dr Tirta di akun instagram miliknya, dr Tirta memberikan penjelasan terkait gas air mata dan kerusuhan di Kanjuruhan.
Bagi dr Tirta, kerusuhan di Kanjuruhan merupakan peristiwa kelam untuk dunia sepak bola di tanah air.
“Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un, Salah satu tragedi kelam di sepakbola dunia,” cuplikan awal caption dr Tirta.
Menurut dr Tirta penggunaan gas air mata di dalam stadion bisa membuat seseorang mengalami hipoksia.
“Serusuh2 nya suporter, penggunaan gas air mata itu sudah dilarang FIFA dalam stadion, karena akan membuat suporter menjadi berdesak2 an keluar , dan jadi kehabisan O2 (oksigen) dan akhirnya hipoksia lalu meninggal,” tulis dr Tirta.
Selain itu dr Tirta juga menyoroti langkah polisi saat mencoba meredam aksi kerusuhan yang tadi malam terjadi.
“Banyak cara untuk crowd control, tapi bukan dengan cara menembakkan gas di dalam stadion,” lanjut tulisan dr Tirta.
Lebih lanjut dr Tirta memberikan pesan agar kerusuhan di Kanjuruhan bisa diusut tuntas mengingat kasus ini disorot hingga ke internasional.
“Harap di usut @divisihumaspolri dan panpel @pssi , evaluasi mitigasi , beberkan fakta, karena berita ini disorot internasional sekarang,” tutup tulisan dr Tirta.
Dampak kerusuhan di Kanjuruhan ini bisa jadi evaluasi yang serius bagi seluruh komponen sepak bola Indonesia yang terlibat.
Semoga saja insiden di Kanjuruhan bisa menjadi pembelajaran untuk meningkatkan kompetisi agar lebih baik kedepannya. ***
Dapatkan promo spesial sebelum Anda pergi