

inNalar.com – Sebuah arsip dokumen rahasia milik Kedutaan Besar AS di Jakarta diungkap ke muka publik oleh National Security Archive di George Washington University.
Dalam catatan dokumen rahasia AS tersebut, nama Soeharto beberapa kali disebut dalam bukti eksklusif tersebut.
Spekulasi sejarah yang simpang siur ini menguak sedikit sisi misterius Soeharto dalam peristiwa berdarah Gerakan 30 September 1965 (G 30 S/PKI) yang berujung pada kudeta Soekarno.
Sebelumnya dokumen ini masuk dalam arsip rahasia, tetapi diputuskan untuk dibuka ke ruang publik lantaran masyarakat memiliki pertanyaan besar mengenai peristiwa 1965 – 1966 ini.
Lantas, apakah Soeharto menjadi pahlawan atau dalang dalam serangan melawan PKI jika merujuk pada bukti dokumen rahasia ini?
Sebelumnya, perlu diketahui bahwa dokumen rahasia AS tersebut terdiri dari 39 dokumen yang mengungkap adanya bukti Pemerintah Amerika Serikat memiliki informasi mendalam terkait pembunuhan massal 1965.
Adapun nama Soeharto disebut dalam dokumen ke-29 tertanggal 27 April 1966. Pada catatan rahasia tersebut, dirinya justru menjadi sasaran korban serangan G 30 S/PKI bersama dengan A.H. Nasution, A. Yani, dan Soeharto.
Target tersebut ditetapkan berdasarkan pemilihan siapa sosok pejabat senior militer yang kala itu dipandang reaksioner.
Namun fakta menariknya, Soeharto tidak menjadi sasaran oleh gerakan senyap tersebut dan justru menjadi salah satu sosok yang berperan dalam menghentikan dan menekan serangan Gerakan 30 September tersebut.
Mencengangkannya lagi, berkat posisi pahlawannya dalam memimpin kendali militer menghentikan gerakan tersebut justru semakin menjadikan dirinya sebagai orang nomor satu di Indonesia.
Terbukti, pada tahun 1968, Soeharto muncul sebagai presiden menggantikan Presiden Soekarno dengan menjadikan Supersemar sebagai alat legitimasinya.
Sebenarnya dalam dokumen ke-31, perannya tidak secara gamblang terlihat dalam catatan dosa dalam upaya penggulingan Soekarno ini.
Pada dokumen tersebut, disebut bahwa pejabat AS mengamati dan menyetujui petinggi militer RI yang bersekutu dengan Jenderal Soeharto untuk melakukan pendekatan khusus kepada perusahaan asing, untuk apa?
Tindakan tersebut dilakukan agar mereka menyerahkan harta dan sewa ke rekening bank yang dikendalikan oleh oknum militer Angkatan Darat kala itu.
Imbasnya, nilai valuta asing menjadi sangat tidak stabil, hingga memunculkan situasi kepanikan di masyarakat dan tujuan akhirnya adalah mempercepat gerakan senyap dari oknum Angkatan Darat mengambil alih kekuasaan Soekarno.
Adapun di dokumen ke-38 yang tercatat pada tanggal 1967 juga memperlihatkan adanya usaha rezim Soeharto dalam menyusun undang-undang investasi yang baru untuk membuka keran masuknya perusahaan asing ke Indonesia.
Pada kebijakan tersebut nampak adanya karpet merah terhadap para investor barat melalui adanya kesepakatan konsesi dari perusahaan minyak, pertambangan, dan kayu.
Hingga kini sejarah masa kelam Serangan 1965 hingga kudeta Soekarno masih tertutup rapat dalam sejarah dan belum ada yang bisa menyimpulkan ketegasan mengenai kebenaran di balik siapa dalang dari serangan tersebut.***