

InNalar.com – Terdapat pembangunan pabrik di Sumatera Selatan, yang telah ditinggalkan oleh investor asing.
Pembangunan pabrik tersebut adalah hilirisasi batu bara, yang mana Indonesia melakukan kerja sama dengan perusahaan Amerika Serikat (AS).
Sayangnya, ditengah pembangunan pabrik hilirisasi batu bara tersebut, tiba-tiba perusahaan AS itu justru mengundurkan diri.
Adapun perusahaan AS tersebut adalah Air Products & Chemical Inc, yang kerja sama dengan PT Bukit Asam Tbk (PTBA) dan PT Pertamina (Persero).
Direncanakan jika pabrik ini nantinya akan dibangun di Muara Enim, Sumatera Selatan.
Jika kerja sama ini berhasil, maka nantinya Indonesia akan memiliki pabrik gasifikasi batu bara, yang akan menghasilkan Dimethyl ether (DME).
Baca Juga: 6 Kota Terkecil yang Ada di Jawa Timur, Nomor 1 Luasnya Hanya 0,03 Persen dari Wilayah Jatim
Perlu diketahui, DME yang akan diciptakan di Sumatera Selatan ini memiliki fungsi yang lebih baik, dibandingkan dengan liquefied petroleum gas (LPG).
Pasalnya, DME lebih mudah terurai di udara yang membuatnya menjadi tidak merusak lapisan ozon, serta nyala api yang dihasilkan juga lebih stabil.
Dilansir InNalar.com dari indonesia.go.id, pembangunan pabrik hilirisasi di Muara Enim Sumatera Selatan ini memerlukan nilai investasi capai USD 15 miliar, atau sekitar Rp 225 triliun, jika kurs dikalikan 15 ribu.
Baca Juga: Kunci Jawaban PTS UTS IPS Kurtilas Revisi Terbitan Kemendikbud Halaman 45, Dijamin Keluar saat Ujian
Meskipun rencana awal yaitu pembangunan pabrik hilirisasi batu bara di Muara Enim Sumatera Selatan ini akan bekerja sama dengan perusahaan AS, namun akhirnya justru perusahaan tersebut meninggalkan kerja sama ini.
Diketahui jika Air Products & Chemical Inc mengundurkan diri saat pembangunan pabrik hilirisasi batu bara ini tengah dalam penggarapan.
Pengunduran diri pada pembangunan hilirisasi batu bara tersebut dilakukan melalui surat, yang terjadi sekitar awal tahun 2023.
Alasannya, hal tersebut dikarenakan perusahaan AS itu merasa bisnis di AS lebih menarik.
Apalagi Amerika Serikat juga tengah mengembangkan energi hijau, jadi investor tersebut lebih memilih mengembangkan investasinya disana.
Walaupun telah ditinggalkan investor asing, pemerintah Indonesia tetap mengusahakan jika kelanjutkan pabrik hilirisasi di Sumatera Selatan ini tetap berlanjut.
Sebab, terdapat pula perusahaan asal China yang tertarik pula dengan pengolahan batu bara ini menjadi DME. ***
Dapatkan promo spesial sebelum Anda pergi