Ditarget Rampung 2023, Bendungan di Aceh Ini Masih Lambat Pergerakan, Hingga Diprediksi Tak Selesai Tahun Ini?

inNalar.com – Bendungan Keureuto menjadi salah satu proyek besar yang sedang digarap pemerintah melalui kementerian PUPR.

Sebelumnya, bendungan ini sudah diproyeksikan sejak tahun 2015 yang lalu, namun mengalami kendala dalam pengerjaannya.

Kendalanya saat itu adalah pada tahap pembebasan lahan di daerah Kabupaten Aceh Utara.

Baca Juga: Bebas dari Pasal Kode Etik, Saldi Isra Lanjut Diamanahi MKMK Pimpin Pemilihan Ketua MK Baru, Intip Sosoknya

Melansir dari laman kementerian PUPR, proyek ini masuk dalam Proyek Strategis Nasional (PSN) yang diharapkan keberadaannya.

Bendungan Keureuto akan dapat menampung air dari Sungai Krueng, yang menjadi penyebab utama terjadinya banjir pada daerah Kota Lhoksukon dan sekitarnya.

Nantinya bendungan ini juga berkapasitas tampung 215,94 juta/m3, serta tampungan khusus banjir sekitar 30,39 juta m3 atau 501,49 m3/detik.

Baca Juga: Dirancang Layani Kecepatan 100 Km per Jam, Jalan Tol di Sumsel Ini Siap Pangkas Perjalanan Jadi 1 Jam Saja

Banyaknya fungsi lain dari proyek ini seperti menyediakan air baku, air irigasi, hingga menjadi pembangkit listrik, sangat ditunggu-tunggu masyarakat.

Menurut pantauan Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA) dari Dapil, pada September lalu, progres bendungan ini masih berjalan lamban.

Proyek yang dimulai tahun 2015 dengan anggaran dana APBN sebesar Rp2,68 triliun tersebut, kini ditarget rampung tahun 2023, namun tidak menunjukkan kesesuaian fakta di lapangan.

Baca Juga: Mangkrak 9 Tahun! Proyek Bendungan Keureuto di Aceh Ini Timbulkan Masalah Serius Bagi Masyarakat, Apa Itu?

Hal tersebut disampaikan Tantawi dalam sebuah diskusi yang digelar Lembaga Aceh Resource and Development di Moorden Coffe Pango pada tanggal 26 September 2023.

Menurutnya, bendungan yang digencarkan oleh pemerintah 2023 ini akan selesai, jauh berbeda dengan apa yang ada dilihat di lapangan.

Pasalnya, dirinya sudah melakukan cek lokasi secara langsung, dan dianggap sangat jauh dengan yang disampaikan. Hingga Tantawi memprediksi bahwa proyek bendungan ini tidak akan selesai di tahun 2023.

Sehubungan dengan kejadian ini, Anggota DPRK Aceh itu mengaku prihatin dengan perasaan masyarakat setempat, yang sudah banyak menaruh harapan.

Pasalnya, kelambatan proyek bendungan ini telah menimbulkan banyak masalah serius bagi masyarakat, terutama dalam hal banjir yang masih terus menghantui.

Setiap tahun, tercatat beberapa kecamatan seperti Matang Kuli, Paya Bakong, Pirak Timu, dan bahkan Kota Aceh Utara Lhoksukon, menghadapi resiko banjir yang merugikan.

Lamanya proyek bendungan ini tidak hanya mengganggu efektivitas pertanian, namun juga menyebabkan kerugian yang signifikan bagi kebun dan sektor peternakan.

Adanya masalah ini, menunjukkan perlunya penyelesaian segara dari pihak berwenang agar proyek bendungan Keureuto dapat segera memberikan manfaat, sebagaimana diharapkan masyarakat.

Inilah gambaran dari pembangunan bendungan Keureuto yang ditarget rampung tahun 2023, namun progresnya masih berjalan lamban.***

 

Rekomendasi