Disebut Kabupaten ‘Tak Terlihat’, Ternyata Daerah di Kalimantan Tengah Ini Juga Punya Cerita Mistis

inNalar.com – Sebuah kabupaten yang berada di pedalaman Kalimantan Tengah yang merupakan hasil dari pemekaran Katingan Timur. 

Mempunyai luas wilayah sekitar 20.000 km2 dengan jumlah penduduk 163.989 juta jiwa pada 2022.

Kabupaten ini didominasi oleh Generasi Z atau kisaran umur 10-25 tahun.

Wilayah ini terdiri dari 13 kecamatan, 154 desa, dan 7 kelurahan. 

Baca Juga: Punya Daya Pikat Saat Malam, Terowongan Mistis Belanda di Bogor Jawa Barat Ini Diburu Warga Lokal karena Ada..

Kabupaten Katingan disebut kabupaten ‘tak terlihat’ karena jarangnya tersorot oleh media.

Namun kabupaten ini mempunyai fakta unik pada wilayahnya serta identik dengan mistis. 

Kabupaten ini dilintasi oleh Sungai Katingan yang merupakan salah satu sungai besar di Kalteng dengan panjang 650 km. 

Baca Juga: Direnovasi Sandiaga Uno, Villa yang Ada di Balik Tangga Mistis di Puncak Bogor Jawa Barat Ini Disulap Jadi…

Memiliki semboyan “Penyang Hinje Simpei” dari bahasa Ngaju yang berarti “Hidup Rukun dan Damai untuk Kesejahteraan Bersama”.

Memiliki keunikan mulai dari taman nasional sampai legenda yang menarik untuk dibahas melansir dari unggahan video youtube @putihhitam TV. 

Taman Nasional Sebangu

Seperti kebanyakan wilayah di Kalimantan yang mempunyai taman nasional sendiri. 

Baca Juga: Menari di Atas Kobaran Api! Tari Zapin Api Sarat Budaya dan Mistis Ditemukan di Pulau…

Pada Kabupaten Katingan memiliki taman nasional yang merupakan salah satu terbesar di Kalimantan Tengah. 

Mempunyai luas 568.700 hektar dan menjadi rumah bagi flora dan fauna di dalamnya. 

Terdapat flora langka yang tumbuh yaitu kantong semar dan rasau, khusus rasau merupakan makanan alternatif bagi bekantan dan orang utan. 

Pada fauna terdapat macan dahan kalimantan, bekantan, orang utan, dan ciung koreng kalimantan. 

Baca Juga: Dibalik Keindahan Hutan Sancang di Garut Ini Ternyata Simpan Cerita Misteri, Dijamin Bikin Merinding!

Bukit Batu Pertapaan Tjilik Riwut

Berada di Kota Kasongan lama yang terkenal dengan hamparan tumpukan batu-batu besar yang membentuk sebuah bukit.

Bebatuan yang didominasi oleh warna hitam dan abu serta dipenuhi oleh lumut.

Selain berwarna hitam dan abu bebatuan juga memiliki corak berwarna putih dengan beragam bentuk yang terletak ditengah hutan. 

Batu tersebut juga memiliki cerita mistis yang dialami oleh Tjilik Riwut, salah satu Pahlawan Nasional dan Tokoh pendiri Provinsi Kalimantan Tengah. 

Pegunungan Schwaner

Memiliki puncak tertinggi dengan nama Bukit Raya yang menjadi gunung tertinggi di Kalimantan dengan ketinggian 2.278 mdpl. 

Nama pegunungan ini diambil dari penjelajah alam asal Jerman bernama Carl Schawer yang sudah menjelajah dari Banjarmasin ke Pontianak. 

Pegunungan ini menjadi rumah bagi 7.500 orang utan dan beragam flora dan fauna seperti rangkong gading, beruang madu, owa kelempiau dan ratusan spesies burung juga reptil. 

Baca Juga: Menguak Cerita Penduduk Madagaskar, Warga: Nenek Moyangku dari Indonesia, Apa Buktinya?

Legenda Mangkikit 

Seperti yang dijelaskan sebelumnya Kabupaten Katingan ini identik dengan mistisnya salah satunya adalah Legenda Mangkikit. 

Berasal dari Sungai Katingan yang mempunyai jeram Riam Mangkikit serta sebuah Batu Tangudau. 

Nama batu tersebut berasal dari nama ikan Tangudau sejenis ikan hiu yang mempunyai lubang dibawah batu tersebut. 

Konon katanya pada tengah riam terdapat perkampungan kecil yang mempunyai pemimpin bernama Mangkikit dan istrinya Nyai Endas. 

Suatu hari sang istri diculik oleh laki-laki yang sedang menyambani rumahnya untuk bertemu dengan sang suami. 

Nyai Endas tak bisa menolak dan terpaksa harus mengikuti laki-laki tersebut tanpa memberitahu Mangkikit. 

Akhirnya sang suami mendengar kejadian tersebut namun ia tak parah dan meminta warga untuk berkumpul di malam hari dan berpesta pada rumah paling ujung bagian hulu.

Sepuluh hari setelahnya Mangkikit meminta seluruh kepala keluarga membakar rumah mereka dan membawa batu Tangudau ke pinggir sungai dengan tenang. 

Setelahnya tak jauh dari kampung terlihat sang istri Nyai Endas berada di halaman rumah besar dan mmberitahu Mangkikit laki-laki yang menculiknya sedang tertidur. 

Akhirnya Mangkikit membunuh penculik tersebut dengan dohong yang terselip di pinggangnya. 

Sang istri bercerita mengenai kampung yang merupakan tempat tinggal bangsa ikan Tangudau dan Mangkikit menjadi raja dan hidup damai.***

 

Rekomendasi