

inNalar.com – Karir Soeharto saat masih menjadi anggota militer tentu tidak selalu mulus.
Bahkan, menurut buku Biografi Daripada Soeharto, dia pernah dikritik oleh A.H. Nasution karena dianggap lamban dalam menjalankan perintah dan tidak tegas.
Kritikan tersebut didapat Soeharto setelah Belanda berhasil masuk ke Yogyakarta dan menangkap beberapa tokoh pemimpin sipil termasuk Soekarno-Hatta.
Akan tetapi, Sultan Hamengkubowono IX tidak termasuk ke dalam tokoh pemimpin yang ditangkap karena saat itu dirinya menolak menemui Mayjen J.K. Meijer.
Meski dikritik sebagai orang yang lamban dan tidak tegas oleh A.H. Nasution, namun, Soeharto sudah berusaha untuk menghalau Belanda yang ingin masuk ke Kota Yogyakarta.
Soeharto yang saat itu masih berpangkat Letnan Kolonel bertugas menjaga keamanan pinggiran kota Yogyakarta.
Selain itu, sebagian besar kekuatan TNI sedang difokuskan di luar kota. Sehingga, saat Belanda melakukan serangan, hanya ada Letkol Soeharto dan pasukannya yang berjaga di luar Yogyakarta.
Sedangkan, bagian dalam kota merupakan tanggung jawab dari Komando Militer Kota (KMK) yang dimpimpin oleh Letkol Latif Hendraningrat.
Jumlah pasukan Soeharto yang berhadapan dengan Belanda ini terhitung sedikit. Soeharto hanya mengandalkan dua seksi brigadenya.
Baca Juga: Terjadinya Malari Hingga Singkirkan Kawan, Benarkah Soeharto Hilangkan Pesaing untuk Tetap Berkuasa?
Selain itu, pasukan Soeharto saat itu juga dibantu oleh beberapa anggota polisi dan resimen mahasiswa.
Kekurangan kekuatan militer untuk menghalau Belanda ini tidak hanya terjadi pada Soeharto dan pasukannya saja.
Pasukan yang ada di dalam kota juga hanya ada satu kompi, pengawal kompi brigade, serta pengawal presiden.
Karena kurangnya tenaga militer inilah Belanda dapat masuk dengan mudah ke dalam wilayah Yogyakarta.
Kepanikan akan serangan dadakan ini juga menambah kemudahan untuk Belanda merangsek masuk.
Kota Yogyakarta yang berhasil diduduki musuh ini membuat Soeharto dan pasukannya terpaksa mundur.
“Bagaimana kecewanya rakyat saat ibukota Yogyakarta menyaksikan Belanda dengan mudah masuk ke tengah kota,” kata Soeharto dalam buku Biografi Daripada Soeharto.
“Mereka tentu tidak akan tahu bahwa saya tidak punya pasukan…” lanjutnya.
Soeharto dan pasukannya kemudian mundur ke Gunungpiring dan mendirikan markas baru di Bibis.
Markas barunya ini berada di rumah seorang kepala desa bernama Harjowiyadi.
Letak dari markas baru ini juga dekat dengan Gua Selarong, pusat kekuatan Pangeran Diponegoro untuk melawan penjajahan Belanda.***
Dapatkan promo spesial sebelum Anda pergi