

inNalar.com – Gempuran bertubi-tubi militer yang dilayangkan militer Israel sejak Sabtu, 7 Oktober 2023 telah sebabkan korban tewas meliputi banyak pihak terutama yang paling memilukan adalah usia anak-anak.
Penderitaan sosial dan masyarakat di Gaza imbas serangan brutal Israel ini membuat wilayahnya disebut sebagai ‘Penjara Terbuka’. Salah satu sosok penyair Arab yang tidak gentar menyuarakan kebebasan Palestina ini bernama Dareen Tatour.
Pada Oktober 2015, sosok penyair Palestina, Dareen Tatour ini pernah dijebloskan Israel ke penjara lantaran puisinya yang dinilai pihak zionis sebagai bentuk hasutan untuk melakukan kekerasan.
Masyarakat yang terampas tanahnya oleh zionis ini memang dikenal sejak dahulu tidak hanya bersenjatakan artileri seperti yang pihak hamas lakukan, tetapi mereka juga menggunakan ungkapan puisi sebagai bentuk perlawanan paling halus.
Dareen Tatour sebelumnya sempat merasakan penjara lantara puisinya yang berjudul Qawem Ya Shaabi Qawemahum atau Lawanlah Para Pemuda, Lawanlah Mereka.
Tentu saja perlakuan Israel terhadap Dareen Tatour, sang penyair Arab di Palestina ini menuai kecaman dari berbagai pihak internasional.
Meski akhirnya Pengadilan Distrik Nazareth membatalkan hukuman atas puisinya tersebut, tetapi ia tetap dihukum lantaran postingan puisinya di media sosial.
Akhirnya, Penyair Arab Palestina ini dipenjara sejak 3 Mei sampai dengan 31 Juli 2018, yakni kurungan penjara selama 5 bulan.
Baru-baru ini, ia memposting sebuah puisi singkat yang menggambarkan imajinasi anak-anak Gaza imbas serangan Israel sejak Minggu, 7 Oktober 2023.
Baca Juga: Mengenal Sosok Presiden Palestina Mahmoud Abbas, Begini Profil dan Biodata Lengkapnya!
Melalui instagram resminya @dareen.tatour, ia mengungkap sebait puisi singkat, tetapi sangat menggambarkan efek psikologis korban anak-anak di tengah kejahatan perang zionis.
Adapun bait puisi sang Penyair Palestina terbaru yang menggambarkan penderitaan dan nasib anak-anak Gaza di tengah genosida Israel dapat diterjemahkan sebagai berikut.
“Sejak aku datang ke dunia ini
Imajinasiku berubah seketika menjadi kebijaksanaan
Mainanku adalah sisa-sisa roket
Makananku di saat lapar adalah puasa
Akhirnya kini aku pun paham bahwa nasibku
Penuh dengan air mata dan puing perdamaian”
Sebagai informasi tambahan, melansir dari data update korban serangan Israel ke Gaza yang bersumber dari Kementerian Kesehatan Palestina melalui postingan IG @eternah, tampak kategori korban semakin meluas hingga jurnalis orang yang masih teridentifikasi hilang.
Terhitung 74 persen dari total korban tewas berasal dari usia anak-anak dan wanita. Lebih lanjut, dari 8.005 total korban Gaza, anak-anak yang terbunuh totalnya mengisi porsi terbesar, yakni 3.324.
Selain itu, 2.062 korban tewas dari kalangan wanita dan 2.079 dari kalangan laki-laki. Sementara korban luka-luka tembus 20.242 dengan jumlah terbesar berasal dari kalangan laki-laki.
Masih ada sebesar 1.9650 orang yang teridentifikasi hilang dengan 940 di antaranya adalah usia anak-anak.
Hingga update terakhir, sebanyak 4000 orang tercatat sebagai tahanan penjara di Israel, sedangkan 29 jurnalis dikabarkan terbunuh.***
Dapatkan promo spesial sebelum Anda pergi