Dinobatkan sebagai Netizen Paling Tidak Sopan? Begini Peringkat Kesopanan Orang Indonesia di Asia Tenggara

inNalar.com – Tentu banyak orang tahu, jika di Indonesia termasuk mudah untuk menjadi viral. Terutama jika tentang hal-hal yang nampaknya unik atau aneh.

Ya, faktor utama dari semua itu adalah dengan adanya kekuatan netizen di Indonesia. Bahkan dikatakan jika netizen di Indonesia merupakan salah satu dari netizen yang tidak sopan di dunia.

Benarkah itu? Dan sebenarnya apa yang membuat hal seperti itu bisa terjadi di Indonesia?

Baca Juga: Bukan Hanya Angka, Cek BMI Akan Mengubah Pandanganmu tentang Berat Badan, Buktikan Sekarang!

Dalam laporan Digital Civility Index (DCI), hebatnya, Indonesia menempati urutan terbawah se-Asia Tenggara dalam hal netizen, atau istilah mudahnya adalah menempati netizen paling tidak sopan di asia tenggara.

Hal tersebut memang dilaporkan oleh microsoft. Saat itu di tahun 2020, microsoft mengumumkan tingkat kesopanan yang terjadi di internet, termasuk salah satunya ialah Indonesia.

Selanjutnya Digital Civility Index pun mengumumkan laporan terbarunya, yang saat itu di tahun 2020 ia melakukan engukuran pada tingkat kesopanan digital di dunia maya.

Baca Juga: Makanan yang Cocok untuk Penderita Diabetes Melitus Tipe 2, Ternyata Nasi Jenis Ini Ampuh Turunkan Gula Darah

Hebatnya, selama pengukuran tersebut, Indonesia menjadi negara terbawah dengan netizen paling tidak sopan di dunia maya.

Adapun tentang menjadi nilai pengukuran, Indonesia mendapatkan nilai semakin buruk dengan mendapatkan tambahn nilai 8, yang membuat nilai dari netizen Indonesia adalah 76.

Jadi maksud dari nilai itu adalah semakin tinggi nilai yang diperoleh, maka semakin tidak sopan perilaku warga netizen di internet.

Baca Juga: Benarkah Madu Lebih Baik daripada Gula untuk Pasien Diabetes? Begini Kata dr Zaidul Akbar

Contohnya, peringkat pertama pada tahun itu adalah Singapura, dengan nilai 54 point, yang membuatnya Singapura menjadi peringkat ke-4 di dunia.

Selama melakukan penilaian, 68% tingkat kesopanan di Indonesia mengalami kemunduran, yang mana persentase tersebut di ambil dari pengguna internet usia dewasa. Sedangkan bagi usia remaja tidak dianggap berkontribusi dalam kemunduran tingkat kesopanan dalam dunia maya pada tahun 2020.

Pada data yang tercatat di tahun 2019, Indonesia memiliki 67 point yang akhirnya meningkat menjadi 76 point.

Selama melakukan survei tingkat kesopanan netizen tersebut, terdapat 16.000 responden dalam 32 negara.

Jumlah responden Indonesia yang mengikuti survei tersebut ada 503. Sedangkan penelitian itu dilakukan di bulan April dan Mei 2020. Akan tetapi publikasi baru dilakukan tahun berikutnya, yaitu bulan Februari 2021.

Survei tersebut menanyakan tentang keterpaparan mereka terhadap 21 risiko online yang berbeda dalam

Terdapat empat kategori yang ditanyakan dengan tujuan untuk melihat seberapa terpapar mereka terhadap 21 resiko online yang meliputi seksual, reputasi, perilaku, dan pribadi/mengganggu.

Ya, dan sayangnya setelah melakukan survei berdasarkan pertanyaan tersebut, Indonesia menempati posisi menjadi netizen paling tidak sopan se-asia tenggara. Dari hasil yang dikumpulkan pula itulah, terdapat 3 faktor yang membuat hal ini terjadi.

Adapun faktor tersebut adalah dari informasi hoaks dan tindakan penipuan yang menjadi naik 13 poin di angka 47 persen.

Tidak hanya itu, faktor selanjutnya adalah ujaran kebencian yang menjadi naik 5 poin, dan mengubahnya ke 27 persen.

Dan terakhir, faktor ketiga yaitu terjadinya diskriminasi sebesar 13 persen, meskipun hal itu tetap membuatnya turun sebanyak 2 poin dibandingkan dengan tahun lalu.

Meskipun begitu, Endang Mariani sebagai Pengamat Psikososial dan Budaya mengatakan jika penting untuk mengetahui apakah hasil penelitian itu bisa digeneralisasikan, karena penting untuk mengetahui metodologi dan analisis data yang dilakukan Digital Civility Index.

Begitulah tentang netizen Indonesia yang menjadi tidak sangat sopan di asia tenggara. Apakah setelah membaca ini netizen akan tetap meramaikan dunia internet di Indonesia?*** (Alma Malik Dewantara)

Rekomendasi