

inNalar.com – Proyek penunjang ekonomi hijau IKN di Kalimantan Utara melalui pembangunan PLTA, ternyata tak lepas dari adanya permasalahan sosial yang menimbulkan rasa dilematis.
Niatnya mewujudkan transformasi energi berkelanjutan dan menerangi IKN melalui proyek PLTA di Kalimantan Utara ini ternyata tak bisa dipungkiri bahwa ada sebuah pengorbanan besar dari kalangan masyarakat yang tak terlihat.
Dua desa pelosok di Kalimantan Utara yang penghuninya mencapai 700 jiwa ini terancam direlokasi oleh Pemerintah guna muluskan pembangunan PLTA dan 5 bendungan.
Bahkan, digadang-gadang PLTA yang akan dibangun di kawasan Sungai Kayan ini akan menjadi yang terbesar se-Asia Tenggara.
Kedua desa di Kalimantan Utara itu adalah Desa Long Peleban dan Desa Long Lejuh yang telah mendiami tanah kelahirannya sejak tahun 1905.
PLTA Kayan merupakan bagian dari Proyek Strategis Nasional yang nilai investasinya mencapai USD 17,8 miliar atau senilai Rp270 triliun.
Pada dasarnya, proyek ambisius ini telah berjalan sejak tahun 2011 . Dilansir dari laman ksp.go.id, proyek PLTA Kayan ini menggaet perusahaan energi Jepang, yakni Sumitomo Corporation.
Efek pembangunan PLTA megah di Kalimantan Utara ini sebenarnya merupakan jawaban bagi perekonomian wilayah perbatasan dapat bangkit lebih melesat.
Namun tidak bisa dipungkiri bahwa pendekatan humanis terhadap 700 penghuni Desa pelosok yang terancam relokasi pun perlu diperhatikan dengan saksama.
Baca Juga: 9 Tahun Mangkrak! Mega Proyek di Lampung Ini Habiskan Triliunan Duit Rakyat dan Rugikan Negara
Meski pada akhirnya kedua desa tersebut pada akhirnya bersedia direlokasi, Pemerintah Provinsi Kalimantan Utara tetap perlu memastikan kehidupan baru 700 kepala keluarga tersebut tetap terjamin.
Perlu adanya kepastian penyediaan lahan garap yang produktif di wilayah barunya guna keberlanjutan hidup masyarakat kedua desa tersebut dari pihak Pemerintah Provinsi Kalimantan Utara.
Diketahui wilayah pemukiman baru kedua desa tersebut akan berada di kawasan budidaya kehutanan.
Keberadaan PLTA Kayan yang diramalkan bakal miliki kapasitas produksi sampai 9.000 megawatt ini menjadi sebuah loncatan transisi energi bagi Indonesia.
Diproyeksikan aliran listrik yang bakal dipenuhi dari proyek megah ini nantinya bakal mampu memenuhi kebutuhan listrik di Kalimantan Utara sendiri dan IKN di Kalimantan Timur.
Pembangunan PLTA ini diketahui banyak menyerap tenaga kerja lokal agar kebermanfaatannya dapat langsung dirasakan oleh banyak masyarakat, terutama yang berada di Kalimantan Utara.***
Dapatkan promo spesial sebelum Anda pergi