

inNalar.com – Kalimantan Utara yang baru berdiri sekitar sepuluh tahun itu ternyata memiliki pulau-pulau kecil yang menyimpan kekayaan sumber daya alam.
Salah satunya adalah Pulau Bunyu yang menjadi pemukiman suku Tidung di mana dikatakan memiliki kekayaan batu bara.
Hal ini pun menarik minat perusahaan seorang taipan India di mana dirinya melakukan pertambangan seluas 2.141 hektar.
Baca Juga: Sudah Berusia 10 Tahun, Pemekaran Daerah Kalimantan Utara Ternyata Masih Terkendala, Apa Alasannya?
Dilansir inNalar.com dari berbagai sumber, tambang yang menjadi tulang punggung utama impor batubara ini dimiliki oleh PT Adani Global.
Diketahui, luas tambang mencapai 12 persen dari total besar Pulau Bunyu yang luasnya sekitar 198 km persegi.
Pengerukkan yang dipimpin oleh anak usaha Adani Enterprise di daerah Kabupaten Bulungan tersebut ternyata membantu memajukan perekonomian setempat.
Dikatakan, pertambangan ini memberikan lapangan pekerjaan terbesar di Pulau Bunyu di mana memiliki pekerja sejumlah 1.500 orang.
Namun, kenyataan tersebut berbanding terbalik dengan efek yang dihasilkannya terhadap lingkungan di sekitar Pulau Bunyu.
Aktivitas pertambangan besar-besaran yang telah dilakukan sejak tahun 2006 ini ternyata merusak sumber daya alam Pulau Bunyu.
Hal ini dibuktikan dengan pelaporan limbah batubara di daerah sungai dan pesisir dari penduduk yang berjumlah sekitar 11.000 orang di pulau tersebut.
Limbah di sungai ini memberikan dampak negatif terhadap keberlangsungan penduduk yang mengandalkan air bersih dari sungai untuk hidup.
Tidak hanya berdampak pada air bersih, limbah yang memenuhi sungai juga menghambat aktivitas penduduk setempat yang memiliki tambak dan perkebunan.
Beberapa warga mengaku harus mengeluarkan biaya sekitar 70.000 ribu untuk membeli air bersih yang memenuhi tandon sekitar 120 liter.
Warga setempat pun meminta kepada pemerintah untuk melakukan pembangunan tanggul untuk mencegah kejadian ini.
Pihak perusahaan sendiri sudah melakukan pembersihan limbah secara bertahap, namun hal tersebut dinilai belum cukup.***