Dijuluki Bapak Pembangunan! Inilah Soeharto Orde Baru yang Jadi Presiden RI 32 Tahun Lamanya…

InNalar.com – Bapak pembangunan, itulah julukan yang diberikan pada presiden ke-2 Republik Indonesia.

Bagaimana tidak, selama kepemimpinannya di masa orde baru, diketahui mantan presiden ke-2 tersebut melakukan banyak pembangunan di Indonesia.

Ya, julukan tersebut diberikan pada seseorang yang pernah menjadi Mayor Jenderal, yaitu Soeharto.

Baca Juga: Desa Wisata Punya Julukan ‘Negeri di Atas Awan’ Hanya 2 Jam dari Alun-Alun Lumajang, Suguhkan 3 Gunung

Saat menjadi presiden, diketahui jika mantan tentara itu menjabat selama 32 tahun lamanya, yang dimulai dari 1967 hingga 1998.

Perlu diperhatikan, saat baru menjabat presiden, sebenarnya Indonesia masih dalam kekacauan pasca tragedi G30SPKI.

Akan tetapi walau dari sulitnya masa itu, akhirnya justru presiden Indonesia mampu mengatasinya dengan baik.

Baca Juga: HEBOH! JKT48 Digandeng Jadi Bintang Iklan Terbaru Shopee 11.11 Big Sale

Sebab saat itu dirinya membuat proyek rencana pembangunan lima tahun (Repelita), yang akhirnya membuat Indonesia dianggap negara yang kuat.

Repelita sendiri sebenarnya merupakan satuan perencanaan yang dibuat pemerintah Orde Baru yang pengerjaannya dilaksanakan selama 30 tahun.

Selama menjabat menjadi presiden, banyak pembangunan yang terjadi yaitu seperti infrastruktur pertanian, transmigrasi, pendidikan, hingga industri nasional, terutama yang menguatkan ekonomi Indonesia.

Baca Juga: Belum Punya Pasangan? Lima Kota di Jawa Timur Ini Cocok Jadi Destinasi Cari ‘Gebetan’, No 1 Bukan Surabaya!

Dilansir InNalar.com dari kebudayaan.kemdikbud.go.id, pada tahun 1983 akhirnya presiden ke-2 diangkat menjadi Bapak Pembangunan Indonesia.

Meski mendapat julukan tersebut, namun sebenarnya sang presiden orde baru pada awalnya justru menolak akan gelar tersebut.

Sebenarnya ide untuk memberikan gelar ini semua berawal dari Menteri Penerangan Indonesia kala itu, yaitu Ali Moertopo.

Saat gagasan dari Menteri Penerangan itu diusulkan, namun sang kepala negara itu justru diam dan tidak menanggapinya.

Meski secara tidak langsung ditolak, namun sang Menteri Penerangan masih mencari akal agar presiden Soeharto mau menerima gelar tersebut.

Cara yang dilakukannya adalah dengan membuat isu pada masyarakat, hingga kabar tersebut menjadi super isu yang mulai disetujui para warga.

Akhirnya, atas desakan dari Angkatan Muda Pembaharuan Indonesia (AMPI), dan Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI), Mereka mengusulkan kembali agar sang presiden di masa orde baru ini mau menerima penghargaan tersebut.***

 

Rekomendasi