Dijadikan Oleh-oleh, Penjualan Ikan Primadona di Kalimantan Utara Ini Malah Kurang Menguntungkan, Kok Bisa?

inNalar.com – Kota Tarakan yang menjadi bagian dari Kalimantan Utara dikenal dengan penghasilan lautnya.

Hal tersebut dibuktikan dari asal mula nama ‘Tarakan’ yang menurut cerita rakyat berarti ‘tempat para nelayan untuk barter hasil tangkapan’.

Dengan luas 406,52 km2, Kota Tarakan di Kalimantan Utara ini juga memiliki potensi dalam hasil perikanan dan budidaya yang tinggi.

Baca Juga: Mengalir dari Tebing 80 M, Wisata Air Terjun di Kabupaten Way Kanan Ini Jaraknya 210 Km dari Bandar Lampung

Dipengaruhi oleh muara sungai, Kota Tarakan rupanya dikenal dengan hidangan berbahan dasar laut khasnya.

Di antara sekian olahan laut yang ada, salah satu hasil laut yang sering dijadikan oleh-oleh di Tarakan adalah ikan tipis kering.

Dilansir inNalar.com dari berbagai sumber, ikan tipis kering adalah olahan dari ikan pepija yang telah dikeringkan.

Baca Juga: Intip 5 Kesenian Khas Banyumas Jawa Tengah yang Masih Kental Dilakukan Masyarakat

Proses pembuatan ikan asin tipis ini telah menjadi bagian dari kehidupan warga Tarakan selama berpuluh-puluh tahun. 

Ikan tersebut dihasilkan dari perairan Pulau Tarakan dan menjadi mata pencaharian utama nelayan dan warga setempat.

Meskipun ikan tipis kering ini memiliki banyak penggemar, ada beberapa kendala yang dihadapi oleh para produsen ikan tipis di Tarakan. 

Baca Juga: 5 Tempat Wisata Ini Bisa Jadi Referensi Destinasi saat Berlibur ke Sumatera Utara, Liburan Semakin Seru!

Salah satu kendala utama adalah penurunan berat ikan saat dikeringkan, sehingga nilai jualnya juga ikut menurun. 

Diketahui, bobot ikan segar yang dibeli dari nelayan di Kalimantan Utara dapat menyusut hingga 50% setelah dikeringkan. 

Salah satu contohnya adalah membeli sebanyak 2,5 kg ikan segar dan berkurang menjadi 1,25 kg setelah kering.

Selain itu, harga penjualan ikan tipis kering tersebut juga dipengaruhi oleh jumlah tangkapan nelayan di Tarakan. 

Ketika tangkapan ikan melimpah, harganya yang didapat pun rendah, sedangkan ketika pasokan ikan sedikit, harganya dapat melonjak.

Hal ini membuat harga jual ikan tipis kering bervariasi antara Rp 15 hingga 30 ribu per kilogram.

Hal tersebut juga berlaku pada harga ikan tipis kering yang bisa cenderung rendah ketika permintaan sedikit. 

Namun, saat ada pesanan dalam jumlah besar, pedagang seringkali membeli dengan harga yang lebih tinggi.

Untuk mengatasi kendala-kendala ini, para produsen ikan tipis kering di Tarakan berharap adanya koperasi. 

Koperasi dapat membantu memperkuat posisi tawar para produsen terhadap nelayan dan pembeli, terutama dari luar Kalimantan Utara. 

Pembangunan koperasi juga membuat para produsen dapat mencari jalur pemasaran sendiri tanpa harus tergantung pada pedagang pasar.

Dengan adanya kerjasama yang lebih baik oleh berbagai pihak, diharapkan penjualan ikan ini dapat dipertahankan menjadi oleh-oleh khas Tarakan.

Selain itu, diharapkan pembangunan koperasi juga dapat menguntungkan berbagai pihak, termasuk nelayan dan penjual. ***

Rekomendasi