

inNalar.com – Membicarakan hewan reptil, sudah pasti membicarakan tentang keganasan.
Buaya, menjadi hewan reptil paling ganas yang mampu menyerang manusia.
Tak tanggung-tanggung, kematian manusia berakibatkan buaya tidak terjadi 1-2 kali saja dalam sejarah.
Lalu bagaimana jika salah satu kota di indonesia menjadi daerah paling banyak dihuni oleh buaya?
Meskipun buaya menjadi reptil yang memangsa ikan dan hewan lainnya, buaya seringkali memangsa manusia.
Dikutip dari International Union for Conservation of Nature (IUCN), buaya memangsa manusia dikarenakan 4 alasan. Karena buaya lapar, mempertahankan wilayahnya, ingin melindungi telur mereka, atau bahkan salah sasaran.
Seringnya serangan buaya pada manusia, menjadikan buaya menjadi pemangsa paling mematikan Se-Asia.
Berbeda yang dilakukan oleh Medan, Sumatera Utara, daerah ini menyediakan penangkaran buaya.
Taman buaya asam Kumbang terletak di Jalan Asam Kumbang, Kecamatan Medan Selayang, Kota Medan ini mampu menampung hingga 2800 buaya.
Baca Juga: Punya 10 Tiang Penyangga, Bendungan Berusia 80 Tahun di Tangerang Ini Jadi Spot Wisata Unik
Tak tanggung-tanggung, lokasi yang berluaskan 2 Ha ini menjadi penangkaran buaya terbesar di Asia Tenggara.
Taman penangkaran buaya ini, menangkarkan berbagai macam buaya, bahkan buaya yang sudah berusia lebih dari 50 tahun. Wow, luar biasa.
Di Taman Buaya Asam Kumbang, pengunjung dapat membeli sensasi keganasan buaya, lho!
Cukup dengan 30 Ribu saja, pengunjung dapat memberi makan buaya, dan rasakan sensasi keganasan buaya ketika menyerang mangsanya.
Kamu tertarik?
Taman budaya Asam kumbang sudah berdiri sejak 1985 dan memiliki tujuan melestarikan buaya sebagai bagian dari konservasi satwa liar.
Dengan begitu, Taman Budaya Asam Kumbang sudah mengantongi izin dalam menangkarkan populasi buaya muara (crocodylus Porosus)
Selain itu, taman budaya Asam kumbang juga menyediakan danau buaya yang mempunyai kedalaman 1m dengan luas 0.5 ha.
Populasi buaya yang ditempatkan di danau hijau ini mencapai hingga 100 ekor buaya. Wah auto mati deh kalau nyebur. ***(Febi Komala Dewi)