Digarap 4 Arsitektur Asing, Gedung Bersejarah di Semarang Ini Dulu Difungsikan Sebagai Kantor Kereta Api Swasta Belanda, Lokasinya…

inNalar.com – Sebuah bangunan menjulang megah di Kota Semarang masih terlihat megah dan kokoh meski telah berusia 120 tahun.

Rupanya menjadi saksi perkembangan sejarah perkembangan industri kereta api di Indonesia.

Rancangan bentuk bangunan bagian dalam gedung warisan kolonial Belanda ini disebut mirip gerbong kereta api.

Baca Juga: Populer dengan Bumbu Penyedap Masakannya, PT Ajinomoto Kini Punya Gudang Biomassa Sendiri, Percepat Transisi Energi RI?

Alasannya bukan karena sekadar pemilik bangunan adalah PT Kereta Api Indonesia (KAI), melainkan ada fungsi khususnya.

Sebagai informasi awalan, gedung seluas 18.232 meter persegi ini dijadikan sebagai kantor perkeretaapian.

Adapun pemilik bangunan tersebut adalah perusahaan swasta kereta api Belanda bernama Nederlandsch-Indische Spoorweg Maatschappij (NISM).

Baca Juga: Pangkas APBN Rp779,2 M, Proyek Jembatan Sepanjang 1.140 Meter di Teluk Tersempit Kota Ambon Ini Baru Diresmikan Setelah 5 Tahun Dibangun

Jadi untuk mempermudah koordinasi dan komunikasi antar karyawan yang bekerja di dalam ruangan gedung tersebut, dibangunlah bentuk bagian dalam bangunan seperti gerbong kereta api.

Rupanya memang secara keseluruhan, gedung bersejarah di Semarang ini memiliki lima bagian bangunan yang bersambung.

Namun proses pembangunannya sebagian dibangun pada tahun 1904 – 1907, dilanjutkan kembali pada kisaran 1916 – 1918.

Baca Juga: Telan Investasi Total Rp4,51 Triliun, Proyek Bersejarah Soeharto 50 Tahun Silam di Pasuruan, Jawa Barat Ini Baru Diresmikan Jokowi

Apabila dirunut proses pembangunannya, dapat diketahui bahwa arsitek bangunan bersejarah ini dibangun oleh 4 arsitektur asal Belanda.

Bermula dari Gedung C yang dirancang oleh seorang arsitek bernama Ir. P. de Rieu.

Dahulu gedung yang pertama dibangun ini berfungsi untuk kantor percetakan karcis kereta api.

Baca Juga: Telan Anggaran Rp70 Miliar, Terminal yang Baru Diresmikan di Kota Bandung Ini Punya Desain Keren Bermotif Batik, Luas Areanya…

Setelah arsitek tersebut meninggal, perannya digantikan oleh Prof. J. Klinkhamer dan B. J. Oundag yang lanjut membangun Gedung A.

Fungsi dari bagian gedung kedua ini adalah untuk dijadikan kantor utama NIS.

Proses pembangunan bermula sejak Februari 1904 sampai dengan Juli 1907.

Baca Juga: Krisis Laut Merah Meradang, Traffic Kapal di Terusan Suez Mesir Merosot 42 Persen, Apa Dampaknya Bagi Perdagangan RI?

Kebutuhan industri kereta api Indonesia semakin kompleks, sehingga dibangunlah fasilitas penunjang di gedung selanjutnya.

Masih dirancang oleh dua arsitek sebelumnya, Gedung B akhirnya dibangun dan disusul dua bangunan sisanya.

Adapun Gedung D dan E dibangun oleh arsitek Thomas Karsten yang disebut merupakan perancang bangunan termuda di antara arsitek sebelumnya.

Baca Juga: Rugikan Negara Rp463 Miliar, Megaproyek Presiden RI Ke-6 di Kabupaten Bogor, Jawa Barat Ini Mangkrak Sia-sia

Lantas, bangunan apa yang disebut mirip gerbong kereta api ini? Berdesain banyak pintu dan jendela, orang sekitar pun menyebutnya dengan ‘Lawang Sewu’.

Hingga kini gedung tersebut masih gagah berdiri di jantung Kota Semarang menjadi bangunan ikonik khas daerah sekaligus wajah industri kereta api Indonesia di masa lampau.

Sebagai informasi tambahan, Gedung ‘Lawang Sewu’ ini milik PT Kereta Api Indonesia dan dikelola oleh PT Kereta Api Pariwisata.***

Rekomendasi