

inNalar.com – Siapa yang akan menyangka derasnya Sungai Citarum menjadi titik awal pembangunan waduk raksasa di Jawa Barat.
Debit aliran derasnya mendorong para ahli pengairan Belanda untuk mempertimbangkan pembangunan bendungan, utamanya di Purwakarta.
Dorongan kuat membangun infrastruktur ketahanan air ini mulai digagas oleh para ahli Belanda sejak 1922.
Deretan survei telah dilakukan mulai dari hidrologi, topologi, hingga kajian geologi pun tidak ketinggalan dalam agenda studinya.
Hingga akhirnya Prof. Ir. W. J. van Blommestein menerbitkan sebuah makalah yang berisi tentang rencana pembanguan waduk di sepanjang aliran Sungai Citarum.
Kala itu Bendungan Jatiluhur adalah proyek di Jawa Barat yang paling mendesak di antara infrastruktur lainnya.
Namun akhirnya rancangan tersebut semakin mantap dengan adanya master plan pembangunan waduk pembantu yang digadang mampu memperpanjang usia Bendungan Jatiluhur.
Bendungan pembantu itu salah satunya adalah Cirata, dan yang lainnya adalah Saguling.
Kegagahan Waduk Cirata masih nampak megah hingga masa sekarang, mengingat manfaat luar biasanya yang perannya seolah tak lekang oleh masa.
Baca Juga: Dibangun Sejak 1976, Waduk di Wonogiri Ini Sampai Harus Tenggelamkan 45 Desa, Investasinya…
Berlokasi di Purwakarta, Waduk Cirata akhirnya dibangun dengan sejumlah pengorbanan.
Salah satunya adalah relokasi 5.335 keluarga yang tersebar di 20 desa pada tahun 1981.
Bisa dikatakan luas genangan waduk ini yang melega hingga 200 hektare ini telah melenyapkan 7 kecamatan yang tersebar di Bandung Barat, Cianjur, dan Purwakarta.
Terowongan pengelak pun akhirnya dibangun pada tiga tahun selanjutnya dan dioperasikan pada 1 September 1987.
Dibangun dengan tinggi bendungan 125 meter dengan panjang 458,5 meter, infrastruktur ini mampu membendung derasnya aliran Sungai Citarum.
Tentu hal ini menjadi keberkahan bagi warga sepanjang aliran sungai, mengingat aliran airnya dahulu kerap meluap dan banjir saat musim hujan tiba.
Baca Juga: Investasinya Rp69 Miliar, Waduk Sejak 1976 di Wonogiri Ini Surut Hingga Munculkan Desa dan Makam Kuno PKI?
Waduk Cirata ini pun memiliki kapasitas tampungan sebesar 2,16 miliar meter kubik dengan luas genangan melebar hingga 6.200 hektare.
Meski dahulu sempat lenyapkan sejumlah desa, pamor infrastruktur legendaris Purwakarta ini pun ternyata tidak ikut lenyap dimakan masa.
Pasalnya belum lama ini Pemerintah RI mengoptimalkan fungsi waduk raksasa ini sebagai lokasi proyek transformasi energi bersih terbesar Indonesia.
PLTS Terapung Cirata yang disebut miliki kapasitas terbesar se-Asia Tenggara dan terbesar ke-3 di dunia menjadi kebanggaan rakyat Jawa Barat.
Bukan soal kemegahannya saja, melainkan manfaat produksi listrik berskala besar ini mampu menerangi 50 ribu rumah tangga berkat pasokan listrik dari PLTS tersebut.***