

inNalar.com – Sekolah menjadi aktivitas yang hampir mustahil bagi anak-anak Inggris tatkala perang dunia berkecamuk.
Namun ternyata tidak mustahil bagi sekolah swasta tertua di Inggris yang dibangun oleh sosok yang mendeskripsikan dirinya sebagai keturunan Raja Charles II.
Sekolah besutan keturunan Raja Charles II ini sekarang bertumbuh menjadi tempat belajar termewah bagi para pelajar Inggris.
Meski saat ini disebut mewah, dahulu pun sekolah ini sudah dinilai mewah bagi para korban perang dunia.
Tidak banyak institusi pendidikan yang berani mengokohkan pendidikan mereka di saat pesawat tentara melintas aktif di langit seharian.
Justru distrik pelosok London bernama Kew inilah yang berani mengaktifkan kegiatan belajar dan mengajar.
Pendidikan terus dipacu rumah belajar ini sejak 1876 hingga bertemu saat-saat menegangkan pada 1900-an, tepat saat perang dunia I dan II terus berlanjut tanpa henti.
Sejarah sekolah bernama Broomfield House School ini bermula oada tahun 1876 di saat Nona Sara Eliza Mead menjadi kepala sekolah pertama mereka.
Nona Mead, menurut pandangan salah seorang mantan muridnya, disebut bangga menjadi keturunan Raja Charles II.
Kebanggaan tersebut terlihat dari penampilan rambutnya yang diserupakan dengan model tatanan rambut zaman kerajaan kala itu.
Berlanjut pada tahun 1901, kepala sekolah Broomfield House School berpindah kuasa ke CM Waldron.
Sosok Waldron, menurut pandangan civitas akademika sekolah termewah Inggris ini sebagai sosok yang sangat dicintai, terutama bagi murid angkatan tahun 1903.
Baca Juga: SPP Capai Rp2,3 Miliar! Cuma di Sekolah Internasional Swiss Ini Siswa Belajar Mendaki Gunung 3 Benua
Selebihnya, tidak banyak kisah mengenai beliau hingga akhirnya kenangan indah anak-anak korban perang dunia I dan II mulai tumbuh dan melekat dengan sekolah termewah di Inggris ini.
Saat kepemimpinan masuk ke tahun 1939, Miss Palmer meng-handle sekolah swasta yang satu ini meski suasana saat itu sangat keruh dan menegangkan.
Meski di tengah gerombolan pesawat tentara yang terus berlalu-lalang di langit Inggris, Miss Palmer tetap mengajak para muridnya untuk duduk bersama di halaman yang menjadi tempat perlindungan serangan udara kala itu.
“Saya memiliki banyak kenangan indah tentang sekolah pada tahun-tahun perang, mulai dari duduk bernyanyi di halaman tempat perlindungan serangan udara,” ungkap Miss Palmer, dikutip inNalar.com dari situs resmi Broomfield House School.
Kenangan bahagia tersebut terus berlanjut hingga akhirnya liburan musim panas tiba.
Mulai pada tahun 1954 inilah kepemimpinan berpindah tangan kepada Nyonya Maude Rose, tepatnya setelah Miss Palmer meninggal dunia pada tahun 1952.
Status Broomfield House School Inggris mulai dibuka untuk pelajar internasional.
Pada pidato pertamanya, kala itu murid yang bergabung di sekolah besutan keturunan Raja Charles II ini datang dari seluruh benua.
Hingga kini, fasilitas sekolah Broomfield House School selalu diperbarui desainnya mengikuti perkembangan zaman.
Meski telah eksis 148 tahun lamanya, infrastruktur sekolah dibangun bergaya modern tetapi nilai ajarannya tetap mempertahankan ketradisionalitas warisan budaya mereka.
Sehingga konsep bangunan yang terlihat dari Broomfiled House seolah membaurkan tradisionalitas dengan modernitas.
Sebagai informasi, sekolah ini terletak di sebuah desa pelosok bernama Kew yang berjarak 23 menit dari pusat kota London, Inggris.
Desa Kew memang menjadi wilayah tempat bernaung anak-anak dan penduduk lemah dengan harapan terhindar dari pengeboman Jerman kala itu.
Sebagaimana diketahui, wilayah sekitar London termasuk desa tersebut pun tidak luput dari target serangan udara.***