

inNalar.com – Jawa Barat menyimpan banyak kisah di balik kemegahan infrastruktur yang terwariskan sejak zaman kolonial Belanda.
Salah satu yang paling fenomenal adalah bendungan yang berlokasi di Kecamatan Jatiluhur, Kabupaten Purwakarta.
Pembangunan bendungan ini sudah dicanangkan sejak zaman kolonial, tepatnya sebelum Indonesia meraih kemerdekaannya.
Jadi proyek ini bermula dari seorang ahli pengairan asal Belanda bernama W.J. van Blommestein.
Seketika ia terpikat dengan derasnya Sungai Citarum yang menyimpan potensi besar di balik kerapnya banjir saat musim hujan.
Tidak dipungkiri derasnya Sungai Citarum seringkali menyebabkan banjir di Bekasi dan Kerawang.
Banjir itu pula yang seringkali mempersulit aktivitas pertanian warga yang kala itu mata pencahariannya didominasi petani.
Namun lain halnya dari pandangan Blommestein, menurutnya, derasnya aliran sungai itu bisa disulap menjadi keberkahan melalui pembangunan bendungan raksasa.
Setelah RI meraih kemerdekaannya, proyek pembangunan waduk di Purwakarta ini pun akhirnya mulai bergerak.
Presiden Ir Soekarno akhirnya menggelar simbolis peletakan batu pertama pembangunan bendungan ini pada 1957.
Kemudian 10 tahun berlanjut, Presiden Soeharto akhirnya meresmikan infrastruktur terbesar di Indonesia.
Infrastruktur legendaris ini pun akhirnya diberi nama Bendungan Djuanda, tetapi seiring berjalannya waktu warga lebih familiar mengenalnya dengan Jatiluhur.
Kala itu, biaya rogoh proyek Bendungan Jatiluhur yang digelontorkan pemerintah mencapai US$ 230 juta.
Dana fantastis itu memang membuat waduk ini memiliki segudang keberkahan bagi masyarakat.
Meski pada akhirnya bendungan ini terpaksa menenggelamkan 14 desa dengan sekitar 5.004 penduduk yang harus direlokasi.
Kendati demikian, Bendungan Jatiluhur menjadi penyalur irigasi bagi 242.000 hektare lahan pertanian dari wilayah Tarum Timur, Barat, dan Utara, melansir dari Archis Provinsi Jawa Barat.
Menariknya, waduk legendaris ini didesain dengan usia fungsionalnya yang digadang mampu bertahan hingga 200 tahun.
Setelah berdirinya Waduk Cirata dan Saguling, rupanya Bendungan Jatiluhur diyakini mampu memperpanjang usianya hingga 276 tahun.
Sebagai informasi, bendungan ini disebut sebagai waduk terbesar di Indonesia, setidaknya pada tahun 1967 saat diresmikannya.
Pasalnya infrastruktur ini memiliki potensi daya tampung berukuran jumbo, yaitu sebesar 12,9 miliar meter kubik per tahun.
Tidak heran dengan muatan volumenya yang begitu besar membuat waduk ini memiliki genangan seluas 4.500 kilometer persegi.***