Didanai China Rp440 Triliun, Proyek Terusan Kra di Thailand Malah Bikin Geram Negara ASEAN

inNalara.com – Proyek Terusan Kra di Thailand mendapatkan asupan dana segar dari China sebesar Rp440 Triliun.

Sumbangsih ini lantaran untuk kemajuan ekonomi Thailand, tetapi proyek terusan ini justru dinilai bisa berimbas negatif dan malah timbulkan perpecahan bagi negara-negara ASEAN jika proyek direalisasikan.

Pasalnya, Selat Malaka yang berada di antara 3 negara yaitu Indonesia, Malaysia dan Singapura merupakan jalur laut paling sibuk di dunia setelah Terusan Suez dan Terusan Panama.

Baca Juga: Butuh Duit Rp466 Triliun, Realisasi Proyek Raksasa IKN Bakal Kuras Dua Keran Anggaran Ini

Melihat peluang yang besar, Pemerintah Negara Gajah Putih ini rupanya juga memiliki ide untuk membuat jalur lalu lintas air pesaingnya yang kemudian dinamakan dengan Terusan Kra.

Proyek ini melibatkan China sebagai pendukung pembangunan. Oleh sebab itu, negeri Tirai Bambu ini disebut tentunya akan mendapatkan keuntungan lebih jika membantu negeri tersebut merealisasikan mimpinya.

Proyek Terusan Kra rencananya akan dibangun di celah daratan sempit negara Thailand yang mempunyai nama Genting Kra, wilayahnya dekat dengan perbatasan Malaysia.

Baca Juga: Invest Dana Rp 6 Triliun, Mega Proyek Energi Bersih Pertamina di Bangladesh Diwarnai Dinamika

Rencana yang dibuat oleh negara berjuluk Gajah Putih ini, yaitu ingin menghubungkan teluk yang berada di sekitar negara di bagian barat menuju laut pasifik di timur.

Semula kedua negara tersebut menandatangani perjanjian terkait pembangunan terusan tersebut yang bisa menguntungkan kedua belah pihak.

Dimana Thailand akan menerima komisi yang besar karena dapat menjadi negara pengendali transportasi air yang sebelumnya dipegang oleh selat malaka dan negara malaysia sebagai pelabuhan yang sangat aktif.

Baca Juga: Investasinya Rp2,3 Triliun! ‘Kebun Angin’ Pertama dan Terbesar di Indonesia Berada di Sulawesi Selatan

Bahkan dapat memungkinkan terdapat penurunan yang terjadi di selat malaka karena perpindahan kapal mulai menurun disana.

Sedangkan China akan melepaskan diri dari ketergantungan terhadap selat malaka yang diawasi oleh pihak Asean yang bekerjasama dengan Amerika Serikat.

Terusan akan dibuat dengan membelah negara Thailand menjadi 2 bagian, pembelahan ini terjadi di wilayah selatan negara itu.

Baca Juga: Sinergi Strategis BRI dan HIPMI Lesatkan Ekspansi Bisnis Pengusaha Muda Indonesia

Stelahnya mereka akan menggerus tanah dalam kawasan tersebut dengan panjang 102 kilometer, lear 400 meter dan kedalaman air 25 meter.

Pembangunan proyek yang menggemparkan negara Asean ini dibangun diatas permukaan laut sehingga mengurangi penggunaan sistem penguncian seperti di terusan panama.

Jika kapal-kapal besar melewati terusan kra dibandingkan melewati selat malaka, mereka akan mendapatkan keuntungan lebih cepat 3 hari untuk sampai ke lautan pasifik dan mengehemat perjalanan 1200 kilommeter.

Baca Juga: Dibela-belain Utang 200 Miliar USD, Megaproyek China di Malaysia Terancam Gagal: Sepi bak Kota Hantu

Sayangnya terusan kra hanya bisa menampung 1 kapal untuk satu kali jalan, hal ini tentunya lebih tidak efisien lagi untuk digunakan.

Setelah perundingan yang cukup lama, proyek ini tidak jadi dijalankan karena melihat dari segi dampak negatif lebih banyak dibandingkan keuntunganya.

Seperti perusakan ekosistem alam, kerusakan ekosistem laut serta munculnya ketegangan besar terhadap masyarakat yang menerima pembebasan lahan.

Negara Asean terutama Singapura, akan mengajukan keberatan jika proyek besar itu tetap dijalankan dan ketegangan Amerika Serikat dengan China mungkin juga lebih intens lagi.

Akhirnya muncul pembangunan alternatif dengan biaya yang sama besarnya namun tidak memiliki dampak negatif yaitu pembangunan jembatan darat dan rel kereta api bawah tanah yang menghubunngkan dua pelabuhan barat dan timur.

Serta dapat membuka lapangan pekerjaan sekitar 280 ribu jika rencana pembangunan alternatif pengganti proyek terusan kra dapat dijalankan oleh pemerintahan.***

 

Rekomendasi