Dibela-belain Utang ke Jepang, Proyek PLTA di Riau Senilai Rp700 Miliar Ini Sulap Arus Sungai Jadi Tenaga Listrik 114 MW per Tahun

inNalar.com – Proyek PLTA Koto Panjang terletak di Desa Rantau Berangin, Kab. Kampar, Provinsi Riau.

PLTA Koto Panjang ini diperkirakan mampu menghasilkan tenaga listrik sebesar 114 MW atau setara dengan 542 GWh setiap tahunnya.

Pembangkit listrik ini juga memiliki bendungan beton dengan ketinggian hingga 58 meter.

Baca Juga: Dapat Suntikan Cuan Rp2,39 Triliun, PT Pertamina Geothermal Gandeng Jepang dan China Bangun PLTP Lumut di Sumatera Selatan

Proyek tersebut memanfaatkan aliran arus dari Sungai Kampar bagian kanan yang dapat menghasilkan daya listrik dan memenuhi target produksi energi.

Adapun biaya pembangunannya berasal dari pemerintah lewat dana APBN serta non APBN.

Selain itu, proyek tersebut juga dibangun dengan dana dari pinjaman luar negeri yaitu Oversease Economic Cooperation Funds atau OECF, Jepang.

Baca Juga: Ucapan Haru Admin BWF seusai Pramudya Kusumawardana Resmi Gantung Raket dari Bulutangkis Indonesia

Total biayanya sendiri sekitar Rp700 miliar dengan tujuan pembangunan untuk memenuhi kebutuhan tenaga listrik di wilayah Riau dan Sumatera Barat.

PLTA Koto Panjang ini juga terkoneksi dengan PLTU Omblilin dengan kapasitas hingga 200 MW.

Pembangunannya pun telah dilakukan sejak tahun 1987 untuk pembebasan tanah.

Baca Juga: Sudah 128 Tahun, BRI Hadir untuk Terus Mendorong Inklusi Keuangan hingga Pelosok Negeri

Sedangkan pekerjaannya dimulai pada tahun 1992 sampai 1997 kemudian dilanjutkan dengan proses penggenangan atau impounding.

Selanjutnya pada tahun 1990 sampai dengan 2003 proyek tersebut dilakukan pemantauan.

Mekasir dari laman resmi PLTA Koto Panjang Sarana prasarana yang dibangun di sekitar proyeknya juga sudah lengkap demi menunjang kebutuhan dan kegiatan operasi.

Baca Juga: Utang Jepang Rp251,9 Miliar, Bandara Bertaraf Internasional di Sumsel Ini Hanya Didanai APBN Separuh Buat Ubah Statusnya

Mulai dari area base camp sebagai kantor pusatnya, rumah dinas, hingga mess bagi para pekerja.

Luas daerah tangkapan air pada proyek ini sendiri mencapai 3.337 dengan debit air tahunan rata-ratanya sekitar 184,4 s.

Pembangkit listrik tersebut dioperasikan melalui 3 unit turbin dengan masing-masing kapasitasnya sebanyak 38.000 kW.

Baca Juga: Pertama di Indonesia, Jembatan Canggih Rp550 Miliar di Kalimantan Barat Ini Bisa Mudahkan Para Petani, Mengapa?

Kemudian akan disalurkan melalui transmisi tegangan tinggi 150 kV menuju sistem interkoneksi ke pembangkit litsrik besar lainnya di Pulau Sumatera.

Diketahui pula ketika memasuki musim kemarau, umumnya debit dari aliran Sungai Kampar akan berkuran.

Akibatnya, kemampuan menghasilkan energi listrik juga menyusut menjadi sekitar 60 MW.***

Rekomendasi