

inNalar.com – Krisis properti yang menghantam Tiongkok kini mulai menampakkan dampaknya pada proyek si ‘Raja Konstruksi’ di luar negeri, termasuk di Malaysia.
Salah satu megaproyek China terbesar dan paling ambisius, yaitu Forest City, yang dirancang dengan menggabungkan infrastruktur perkotaan dan vegetasi lokal.
Alih-alih ramai dan penuh kehidupan, Forest City sekarang tampak kosong dan malah terlihat seperti kota hantu yang terlantar di tepi laut Malaysia.
Lantas, apa saja yang menyebabkan proyek China ini terancam gagal? Yuk, simak selengkapnya di sini.
Impian Proyek Kota Modern
Menurut berbagai sumber, Forest City menjadi proyek ambisius dari pengembang properti asal Tiongkok, yaitu Country Garden.
Megaproyek ini dirancang untuk menjadi kota modern dan mampu menampung hingga 700 ribu penduduk di atas pulau reklamasi dekat Johor, Malaysia.
Areal kota masa depan ini didesain sebagai kota masa depan yang ramah lingkungan dengan berbagai fasilitas mewah seperti taman, pusat hiburan, dan kawasan bisnis.
Krisis Propeti di Tiongkok, China
Baca Juga: Jembatan Bermotif Batik? Ini Dia Infrastruktur Paling Unik di Yogyakarta, Calon Ikon Baru Jogja 2025
Jika merujuk pada misinya, proyek ini seharusnya menjadi simbol kejayaan Tiongkok dalam merambah pasar properti global.
Namun, menurut laporan dalam kanal YouTube EpicVice, krisis properti yang melanda China mengancam kelangsungan proyek ini.
Setelah berjalan delapan tahun, hanya sekitar 15% dari rencana pembangunan yang berhasil diwujudkan. Akibatnya areal properti ini sepi dan terkesan kosong seperti kota hantu.
Utang Country Garden di Balik Ambisi Proyek
Sebagai perusahaan pengembang terbesar di Tiongkok, Country Garden menghadapi utang hampir 200 miliar dolar yang semakin memperberat beban perusahaan.
Meskipun Forest City telah menjual sebagian besar dari 28 ribu unit apartemennya, mayoritas tetap kosong.
Proyek yang awalnya diharapkan penuh kehidupan ini kini lebih menyerupai kawasan terbengkalai. Bahkan, hanya sekitar 1% unit hunian yang benar-benar ditempati.
Oleh sebab itu, kesan bahwa Forest City adalah investasi gagal yang lebih mirip kota hantu semakin menguat.
Dalam hal ini, optimisme Country Garden untuk tetap melanjutkan proyek ini kini dipertanyakan.
Dengan krisis utang yang semakin besar, kemampuan perusahaan untuk melanjutkan pembangunan Forest City tampak semakin sulit diwujudkan.
Kebijakan Pemerintah Malaysia bagi Forest City
Selain krisis utang yang menghantam industri properti di Tiongkok, proyek Forest City juga menghadapi tantangan dari kebijakan pemerintah Malaysia.
Pada tahun 2018, mantan Perdana Menteri Malaysia, Mahathir Mohamad, memperkenalkan kebijakan pembatasan visa bagi pembeli asing, khususnya dari Tiongkok.
Menurut informasi dari YouTube EpicVice, keputusan ini mengurangi daya tarik Forest City bagi pembeli potensial dari Tiongkok.
Karena sebelumnya, merekalah orang-orang yang diharapkan menjadi basis utama penghuninya.
Tentunya, situasi politik dan ekonomi yang berfluktuasi di Malaysia turut menambah ketidakpastian bagi calon pembeli.
Sehingga menyebabkan Forest City tetap kosong meskipun sebagian besar unit telah terjual.
Bahkan, dilansir dari YouTube DW Indonesia, para penghuninya justru merasa terasing dan sepi, jauh dari bayangan kehidupan kota yang diimpikan.
Kegagalan Forest City bagi Industri Properti
Forest City adalah contoh nyata bagaimana ambisi besar dapat tersandung oleh risiko global yang kompleks.
Menurut catatan konstruksi, krisis properti yang melanda Tiongkok bukan hanya berimbas pada proyek domestik, tetapi juga pada megaproyek internasional.
Krisis ini mengajarkan bahwa pembangunan besar tidak hanya membutuhkan modal dan visi tetapi juga perencanaan yang matang.
Demikian itulah sekilas tentang Forest City, salah satu mega proyek China yang terancam gagal di Malaysia dan berakhir seperti kota hantu.***(Gita Yulia)