Dibangun Zaman Kolonial Belanda, Bendung Tertua Jawa Barat Ini Masih Alirkan Irigasi 105.000 Ha Lahan Pertanian di Karawang, Padahal Usianya…

inNalar.com – Sungai Citarum rupanya banyak meninggalkan jejak sejarah infrastruktur tata kelola air peninggalan Belanda.

Salah satu yang paling legendaris adalah Bendung Walahar yang dibangun di Karawang, Jawa Barat.

Penamaan infrastruktur ini dinisbatkan kepada nama desa dimana bendung ini dibangun.

Baca Juga: Dipugar Megah Habiskan Rp70 Miliar, Revitalisasi Terminal Leuwipanjang di Bandung Jawa Barat Selesai Digarap, Mampu Layani 637 Bus per Hari

Melintang gagah membendung aliran deras Sungai Citarum, ternyata sebagian juga mengenal infrastruktur ini dengan nama Bendung Parisdo.

Jadi dahulu seorang ahli hidrologi Belanda, C. Swan-Koopman, membangun sebuah bangunan pengatur aliran air pada tahun 1920, dikutip laman PUPR.

Lima tahun kemudian, infrastruktur ini diresmikan dan mulai berfungsi efektif pada 30 November 1925.

Baca Juga: Baru 2 Bulan Diresmikan, Proyek Skybridge di Stasiun Bojonggede Senilai Rp18,33 Miliar Ini Bersiap Babat Lahan 300 M2 Lagi

Dahulu efektivitas pengaturan air dari Bendung Walahar ini mampu mengairi irigasi lahan persawahan seluas 87.396 hektare.

Tidak heran karena lebar badan bangunan mencapai 50 meter melintang di Sungai Citarum.

Pada bagian atas dam, terdapat jembatan selebar 3 meter yang seringkali mengundang minat warga untuk sekadar melihat peninggalan Belanda ini.

Baca Juga: Produksi Beras 14,9 Ton, PLTS di Muara Enim Sumatera Selatan Ini Dorong Irigasi Desa Karang Raja hingga 3 Kali Panen, Ternyata Dibangun Oleh…

Dibangun dengan gaya arsitek kuno dipadu dengan aura hangat cat berwarna kuning, bangunan utama bendung ini masih dipertahankan hingga kini.

Padahal usianya sudah memasuki 99 tahun, tetapi fungsi irigasi Bendung Walahar semakin melebar manfaatnya hingga 105.000 hektare lahan persawahan.

Luas areanya membentuk waduk yang melega hingga kurang lebih hingga 15 hektare.

Baca Juga: Laba Bersih Menukik Tajam Rp6,27 Triliun, Emiten Batu Bara di Sumatera Selatan Ini Gaet Anak Usaha Chandra Asri Guna Perluas Bisnis EBT

Jadi selain fungsi irigasi, bendung heritage di Jawa Barat ini digunakan sebagai pengatur debit air sekaligus destinasi wisata bersejarah.

Pintu Bendung Walahar sempat dilakukan renovasi ketika 1989 dan lanjut direhabilitasi kembali pada tahun 2009.

Keberadaannya kini masih dipertimbangkan dan dikelola oleh Perum Jasa Tirta II konsisten menyokong ketahanan pangan Jawa Barat.

Baca Juga: Keruk Biaya APBN Rp32,4 Miliar, Proyek Embung Wanakarya di Kabupaten Indramayu, Jawa Barat Bakal Suplai Air Lahan Pertanian Seluas 777 Ha

“Kebutuhan swasembada pangan di jawabarat sangat bergantung pada pengeloloaan bendung walahar,” dikutip dari Perum Jasa Tirta II.

Meski model bangunan terlihat antik, tetapi fungsi infrastruktur ini seolah tidak lekang oleh usia.

November 2025 mendatang, Bendung Walahar akan memasuki usianya yang ke 100 tahun.***

 

Rekomendasi