

inNalar.com – Kiprah geliat produksi bahan bakar fosil di Indonesia ternyata telah dimulai sejak zaman kolonial Belanda pada tahun 1904.
Tepatnya saat perusahaan Belanda bernama Shell membangun sebuah kilang minyak di Plaju, Sumatera Selatan.
Produksi kilang kala itu kapasitasnya masih 110 Million Barrel Steam per Day (MBSD).
Tidak lama berselang, tepatnya pada tahun 1926, kilang minyak selanjutnya dibangun.
Kali itu namanya adalah Kilang Minyak Sungai Gerong, dibangun di seberang Sungai Komering dan letaknya tidak jauh dari kilang tertua RI tersebut.
Namun untuk Kilang Sungai Gerong pihak pembangunnya berasal dari perusahaan asal Amerika Serikat bernama Stanvac.
Baca Juga: Cetak Laba Bersih Mencapai Rp35,8 Miliar, PT Emdeki Utama Tbk Mencatatkan Penurunan Utang
Perjalanan eksistensi Kilang Minyak Plaju ini pun melalui lika-liku histori kesejarahan yang luar biasa pelik.
Tidak heran karena saat kilang tersebut beroperasi, Perang Dunia II masih berkecamuk hebat.
Tentu ‘harta karun’ RI ini menjadi incaran yang memikat bagi kolonialis Jepang untuk merebutnya dari tangan Belanda yang kala itu sebagai pengelolanya.
Pasukan Jepang sempat memanfaatkan kilang ini guna operasional pertempurannya.
Menyedihkannya, Kilang Minyak Plaju di Sumatera Selatan ini sempat hancur sebagian imbas gempuran Jepang.
Namun pada akhirnya infrastruktur kelola migas tertua di Indonesia ini kembali ke tangan Belanda.
Kabar menggembirakannya adalah mulai tahun 1965 Pertamina memastikan kilang tersebut menjadi milik RI.
Setahun kemudian seluruh properti berhasil diambil alih oleh perusahaan minyak nasional ini.
Lantas, apakah Kilang Minyak Plaju ini masih beroperasi hingga kini?
Di bawah kehandalan pengelolaan Pertamina, meski pun usianya yang menginjak 120 tahun kilang ini masih berfungsi dengan baik.
Sumbangsihnya terhadap produksi migas negara masih berjaya hingga kini.
Bahkan kini eksistensinya makin bertransformasi, terbukti dalam 5 tahun terakhir Kilang Pertamina Plaju di Sumatera Selatan ini berhasil menekan lebih dari 1 juta ton emisi karbon.
Melansir dari Migas ESDM, kilang ini resmi menghasilkan bahan bakar Biosolar ramah lingkungan (B20) pada tahun 2019.
Jadi di dalam kandungan bahan bakar minyak yang diproduksi, terdapat kandungan Solar dan minyak nabati Fatty Acid Methyl Ester (FAME) dengan kandungan 20 persen.
Sebagai informasi, kapasitas produksi kilang ini pernah mencetak prestasi gemilang pada tahun 2022, yakni mencapai 5,1 juta barel.***