Dibangun Sejak 2019, Museum di Kota Samarinda Ini Disebut Destinasi yang ‘Terlupakan’, Kenapa?

inNalar.com – Samarinda merupakan kota yang menjadi pusat pemerintahan provinsi di Kalimantan Timur.

Jadi pusat pemerintahan, di Samarinda terdapat berbagai tempat wisata dan salah satunya wisata edukasi.

Di kota ini terdapat sebuah museum yang dikenal dengan nama Museum Samarinda.

Baca Juga: Dana Konstruksinya Rp120 Miliar, Pembangunan SPAM di Kabupaten Gowa Ini Telah Mangkrak Selama 5 Tahun

Lokasinya berada di Jl. Bhayangkara No.1, Bugis, Kec. Samarinda Kota, Kota Samarinda, Kalimantan Timur.

Pembangunannya dimulai pada tahun 2019 dan resmi beroperasi pada tahun 2020.

Dilansir inNalar.com dari samarindasmartcity.com, museum ini memiliki arsitektur bangunan kota memanjang.

Baca Juga: Nyaris Kantongi Rp1 Triliun, Kawasan Industri Ramah Lingkungan se-Jawa Tengah Ini Berhasil Lampaui Target Penyewaan Lahan 107 ha

Gaya arsitekturnya terinspirasi dari Rumah Panjang Lamis Khas Kalimantan yang kemudian dipadukan dengan sentuhan modern.

Bangunan ini memiliki Atap pelana sendiri dibangun dengan cara dipotong diagonal sebagai inspirasi dari sebuah perisai atau tameng Suku Dayak.

Museum ini memiliki sekitar 285 koleksi yang terdiri dari foto zaman dulu dan bersejarah, replika artefak, kain sarung, buku sejarah, dan lainnya.

Baca Juga: Jadi Proyek Kolaboratif antara RI dan UEA, Pembangunan Kampus Senilai Rp173,8 Miliar di Yogyakarta Ini Bakal Punya Gedung 9 Lantai

Museum ini dibuka dari hari Selasa hingga hari Minggu dengan jam operasional setengah sembilan hingga pukul duabelas.

Setiap minggunya, jumlah rata-rata pengunjung sekitar 50 orang dan sebagian besar dari sekolah dan mahasiswa.

Meskipun begitu, pada saat pandemi Covid-19 melanda, Museum ini sempat tutup cukup lama.

Baca Juga: Telan Rp5 Triliun, Kalimantan Timur Bakal Punya Mall Megah Baru, Desainnya Bak…

Setelah dibuka kembali, diketahui museum Samarinda ini sepi pengunjung.

Hal tersebut menjadi PR besar Dinas Kebudayaan Samarinda terkait sepinya museum ini.

Hal tersebut ditengarai kurangnya upaya promosi dari pihak dinas terkait untuk meningkatkan jumlah pengunjung.

Maka dari itu tak heran bila museum ini disebut sebagai destinasi yang terlupakan.***

 

Rekomendasi