Dibangun Sejak 2010, Ternyata Proyek PLTU di Kalimantan Utara Ini Sempat Mangkrak, Apa Masalahnya?

 

inNalar.com – Dalam rangka terus menambah dan meningkatkan kualitas infrastruktur ketenagalistrikan, Kalimantan Utara membangun sebuah PLTU atau Pembangkit Listrik Tenaga Uap.

Pembangkit Listrik Tenaga Uap di Kalimantan Utara ini bernama PLTU Malinau.

Seperti namanya, Pembangkit Listrik Tenaga Uap Malinau ini berlokasi di Kabupaten Malinau.

Tepatnya, PLTU Malinau ini berlokasi di Kelapis, Kec. Malinau Utara, Kabupaten Malinau, Kalimantan Utara.

Baca Juga: 294 Km dari Surabaya, Pelabuhan Zaman Kerajaan Blambangan di Jatim Jadi Penghasil Ikan Terbesar di Pulau Jawa

Pada bulan November 2022 lalu, PLTU Malinau berhasil melakukan performance test.

Hal tersebut diungkapkan Josua Simanungkalit selaku General Manager PLN UIP KLT bahwa PLTU Malinau telah melakukan serangkaian performance test unit 1.

Performance test dilakukan beberapa tahap yang pertama pada beban 1 Megawatt, selanjutnya 50 persen beban 1750 pada hari yang sama.

Kemudian, dilanjut 75 persen dengan uji emisi sampai pada tanggal 11 hingga 12 November berhasil mencapai 100 persen MCR (Maximum Continous Rate).

Hingga Desember 2022, total persentase progres dari pekerjaan pembangunan PLTU Malinau 2×3 MW ini secara keseluruhan telah mencapai 97,83 persen.

Baca Juga: Nilai Investasinya Lebih dari Rp2000 Triliun, Ternyata Ini Investor Kakap yang Bangun KIPI di Kalimantan Utara

Nantinya dengan beroperasinya PLTU ini akan menambah keandalan sistem kelistrikan di Kabupaten Malinau.

Selain itu, biaya operasi PLN di Kabupaten Malinau diharapkan bakal turun hingga Rp 4,9 miliar per bulan.

Sebagai informasi, PLTU Malinau ini mulai dibangun pada tahun 2010 lalu saat provinsi Kalimantan Utara belum terbentuk.

Hal tersebut diartikan bahwa pembangunan PLTU Malinau ini memakan waktu lebih dari 10 tahun lamanya.

Tetapi ternyata, proyek PLTU Malinau ini sempat mangkrak di tahun 2016 lalu. Apa masalahnya?

Baca Juga: Bersiap ‘Pensiun Dini’, Ternyata 2 PLTU di Jawa Timur Ini Mulai Kurangi Batu Bara Dengan Cara Tak Diduga

Mangkraknya proyek PLTU Malinau ini disebabkan tingginya biaya proyek akibat depresiasi kurs rupiah terhadap dolar Amerika. Pada saat itu, progres pembangunan proyek PLTU Malinau ini mencapai tahap 55,69 persen.***

Rekomendasi