Dibangun Sejak 1870, Rumah di Kotawaringin Timur Ini Jadi Tertinggi se-Kalimantan Tengah? Begini Strukturnya

InNalar.com – Indonesia terkenal sebagai negeri yang kaya akan budaya. Mulai dari kesenian tari, kuliner, pakaian tradisional, bahasa hingga rumah tradsiional khas daerah.

Adapun salah satu Rumah tradisional khas Indonesia yang kental akan filosofinya ini bernama Betang, suatu rumah tradisional suku Dayak Ngaju yang berada di Kalimantan Tengah.

Letaknya berada di Desa Tumbang Gagu, Kecamatan Antang Kalang, Kabupaten Kotawaringin Timur, kalimantan Tengah.

Baca Juga: Resmi Mundur! Harta Kekayaan Milik Mantan Wakil Walikota Tomohon Wenny Lumentut Ternyata Tembus Rp198 M

Oleh sebab itu, Rumah Betang yang ada di Kotwaringin Timur ini biasa disebut Betang Tumbang Gagu atau Bentang Antang Kalang.

Selanjutnya, Betang di desa tersebut berbentuk persegi panjang mirip rumah panggung.

Rumah tradisional Betang Tumbang Gagu ini sendiri menjadi salah satu bangunan terbesar dan tertinggi diantara Betang lain di Kalimantan Tengah.

Baca Juga: 3 Tahun Jadi Walikota Bitung, Harta Maurits Mantiri Naik hingga Rp1,3 Miliar, Intip Rincian Kekayaannya

Bahkan di Kabupaten Kotawaringin Timur,  Betang Tumbang Gagu ini menjadi satu-satunya Betang tua yang tersisa.

Dilansir dari Instagram Disbudpar Kalteng, Rumah Betang ini memiliki tinggi 15,68 meter, lebar 26,4 meter, dan panjangnya mencapai 58,7 meter.

Proses pembuatan Betang Tumbang Gagu ini cukup lama. Bagaimana tidak? dibutuhkan waktu selama 7 tahun untuk mendirikan rumah tradisional ini, dengan cara manual menggunakan pasak.

Baca Juga: Omzet Capai Rp5 Juta! Tangerang Ternyata Miliki Tempat Wisata Kuliner Didominasi Jual Mie Laksa, Kok Bisa?

Kehadiran Betang sebagai rumah tradisional sendiri menggambarkan sikap keterbukaan dan toleransi yang tinggi masyarakat Dayak dahulu kala.

Sementara itu, Betang Tumbang Gagu yang dibangun sejak tahun 1870 ini mempunyai tiang yang berjumlah 95 buah pada bangunan utamanya.

Sedangkan, tiang-tiang tersebut terdiri dari tiang berukuran besar yang menembus hingga bagian tengah bangunan atau biasa disebut Jihi.

Jihi sendiri biasanya dipasang pada setiap sudut, serta bagian panjang rumah. Terdapat 33 jihi dengan diamter 1,8 meter.

Kemudian, untuk tiang yang berukuran lebih kecil dari jihi biasanya disebut Tungket. Pada Betang Tumbang Gagu, terdapat tungket dengan diameter 50 cm dan berjumlah 62 biji.

Adapun bahan baku utama tiang jihi maupun tungket ini, berasal dari kayu besi atau kayu ulin dan kayu meranti.

Tidak hanya itu, Pada halaman depan Betang Tumbang Gagu ini juga terdapat Sapunduyang berjumlah 12 buah, Sandung dan Tiang Panter berjumlah 7 buah.

Sapundu yang berjumlah 12 buah ini sendiri ditempatkan di dekat Sandung, tepi sungai Kalang dan 1 Sapundu berada di tengah-tengah halaman Betang.

Selain ketiga hal tersebut, pada halaman Betang Tumbang Gagu juga terdapat Lumbung atau Lepau yang berfungi sebagai tempat menyimpan padi. Namun, kini hanya tersisa struktur bangunannya saja.

Sayangnya, karena usianya yang semakin tua. Rumah Betang yang menjadi warisan budaya Indonesia ini keadaannya rusak dan lapuk. ***

 

Rekomendasi