

inNalar.com – Apabila kita menelisik jejak infrastruktur di pelosok Jawa timur, ada salah satu terowongan legendaris yang hingga kini masih berfungsi.
Terowongan ini dibangun oleh perusahaan kereta api Belanda bernama Staatsspoorwegen, letaknya memanjang hubungkan Kabupaten Jember dan Banyuwangi.
Melintang sepanjang 690 meter, infrastruktur ini dikhusukan untuk lintasan kereta api penumpang mau pun barang.
Pada era kolonial Belanda, terowongan ini digunakan untuk mengangkut komoditas hasil bumi seperti kopi, gula, dan beras.
Sederetan hasil bumi tersebut diketahui menjadi komoditas ekspor andalan daerah Banyuwangi.
Lintasannya membelah perut Gunung Gumitir terhubung di antara Stasiun Mrawan dan Kalibaru.
Melansir dari Heritage KAI, terowongan kereta api ini dibangun pada tahun 1901.
Di saat bersamaan, proyek tersebut masuk ke dalam paket pengerjaan jalur kereta api Kalisat – Banyuwangi.
Jadi awalnya para pekerja konstruksi melakukan penggalian tanah dimulai dari sisi Kalisat.
Selanjutnya penggalian tanah dilakukan dari sisi Banyuwangi hingga akhir Desember 1902.
Hingga akhirnya terowongan kereta api terpanjang kedua di Indonesia ini mulai nampak utuh sepanjang 450 meter.
Sampai pada akhirnya pengerjaan tersebut semakin sempurna dengan lintasan sepanjang 690 meter.
Pembangunan infrastruktur lintasan kereta ini juga dilengkapi dengan saluran drainase dengan bentang 300 meter.
Perusahaan kereta api Belanda, Staatsspoorwegen, juga diketahui sempat menyempurnakan infrastruktur tersebut pada tahun 1910.
Lintasan tersebut namanya adalah Terowongan Mrawan, dinamakan demikian karena penisbatannya ke nama aliran sungai di sekitarnya.
Hingga kini masih aktif dilintasi kereta api seperti Sri Tanjung, Tawang Alun, dan beserta kereta api lokal lainnya.
Adapun jalur tersebut kini dikelola oleh PT KAI Daerah Operasi IX di Jember, Jawa Timur.***