Dibalik Konflik Rusia Ukraina, Amerika Serikat Disinyalir Mendukung Milisi Neo Nazi Ukraina


inNalar.com – Pekan lalu, Batalyon Azov memicu kemarahan terkait video penghinaan dan rasisme yang dibagikan oleh Garda Nasional Ukraina (NGU) di Twitter. Dalam cuitan tersebut menunjukkan bahwa anggota Azov tengah mengolesi peluru dengan lemak babi.

“Pejuang Azov dari Garda Nasional mengolesi peluru dengan lemak babi untuk melawan Orc Kadyrov (tentara Chechnya),” kata akun NGU. NGU kemudian menghapus video sensitive tersebut dari akunnya, menyusul kritik dari banyak pengguna Twitter.

Detasemen Operasi Khusus Azov, yang juga dikenal sebagai Batalyon Azov, adalah resimen militer neo-Nazi yang berbasis di Ukraina dan didirikan oleh golongan supremasi kulit putih.

Baca Juga: Doni Salmanan Jalani 13 Jam Lebih Pemeriksaan, si Crazy Rich Bandung Resmi Jadi Tahanan Bareskrim Polri

Batalyon Azov tengah menarik perhatian dunia setelah anggotanya terlihat terlibat dalam krisis Ukraina-Rusia yang sedang berlangsung.

Sebelumnya, Presiden Rusia Vladimir Putin menyatakan bahwa operasi militer Rusia di Ukraina bertujuan untuk “demiliterisasi” dan “de-Nazifikasi” Ukraina. Batalyon Azov dilaporkan merupakan unit Garda Nasional (NGU), yang didukung oleh Kementerian Dalam Negeri Ukraina.

Terlepas dari latar belakangnya, Batalyon Azov juga dikenal di Barat karena sikap neo-Nazi yang ekstrem, dan atas dugaan keterlibatannya dalam sejumlah serangan teror dan insiden hasutan separatisme di berbagai negara dan wilayah, termasuk kerusuhan di Hong Kong pada 2019.

Baca Juga: Doni Salmanan Resmi Jadi Tersangka Kasus Penipuan Investasi Opsi Biner Aplikasi Qoutex, Kini Sudah Ditahan!

Pada Desember 2019, beberapa neo-Nazi Ukraina termasuk anggota Batalyon Azov terlihat dalam kerusuhan separatis di jalanan Hong Kong, yang menyebabkan kepanikan di antara warga setempat.

Kejadian di Hong Kong tersebut bukan yang pertama kali bagi anggota Batalyon Azov terlibat dalam insiden terorisme dan kekerasan. Pada Maret 2019, 51 orang tewas di dua masjid di Christchurch, Selandia Baru dalam sebuah penembakan massal yang membabi buta oleh Brenton Tarrant dari Australia.

Tarrant, saat serangan terorisme tersebut menunjukkan simbol-simbol yang juga digunakan oleh Batalyon Azov. Tarrant juga mengklaim dalam manifestonya, bahwa ia pernah melakukan perjalanan ke Ukraina, menurut sebuah artikel yang diterbitkan di situs web Dewan Atlantik pada Februari 2020.

Baca Juga: Peringatan Hari Musik Nasional 9 Maret 2022, Misteri Kelahiran WR Soepratman Sang Pencipta Lagu Indonesia Raya

Melansir ABC News, pada September 2019 telah terjadi upaya serangan teroris oleh seorang tentara Amerika yang mencoba mengebom kantor jaringan berita utama Amerika. Prajurit Jarrett William Smith, yang ditangkap oleh FBI, mengatakan bahwa dia berencana pergi ke Ukraina untuk berperang dengan kelompok sayap kanan Azov.

Meskipun secara luas dianggap sebagai ancaman bagi keamanan dunia dan musuh masyarakat, Batalyon Azov ternyata memiliki hubungan tidak hanya dengan pihak berwenang Ukraina saja, tetapi juga dengan Amerika Serikat.

Sejak Batalyon Azov didirikan pada 2014, banyak media Amerika telah mengungkapkan potensi hubungannya dengan pihak berwenang AS. Menurut artikel Yahoo News pada Januari 2022, Central Intelligence Agency (CIA) secara diam-diam telah melatih pasukan Azov sejak 2015. CIA disinyalir telah mengawasi program pelatihan intensif dan rahasia di AS.

Baca Juga: 5 Tips Parenting ala Orang Tua Lala Shabira, Salah Satunya Ajarkan Bertutur Kata yang Baik

Melansir The Nation pada Januari 2016, Kongres AS menghapus larangan mendanai kelompok neo-Nazi seperti Batalyon Azov dari anggaran belanja akhir tahun, pada 2015. Pada Juli 2015, dua anggota Kongres menyusun amandemen undang-undang tersebut.

RUU Senat Alokasi Pertahanan tersebut, berisi tentang pembatasan senjata, pelatihan, dan bantuan lainnya kepada milisi Neo-Nazi Azov. Namun amandemen itu dihapus pada November 2015 menyusul tekanan dari Kementerian Pertahanan Amerika Serikat.

Dikutip inNalar.com dari The Nation, James Carden mengatakan, “Mempertimbangkan fakta bahwa Angkatan Darat AS telah melatih angkatan bersenjata Ukraina dan pasukan garda nasional, Kongres dan pemerintah telah membuka jalan bagi pendanaan AS untuk berakhir di tangan elemen paling berbahaya yang beredar di Ukraina hari ini.”

Dilansir dari VOA, Pada Desember 2017, Richard Vandiver dari produsen senjata Amerika AirTronic mengatakan bahwa penjualan senjata mematikannya ke Ukraina dilakukan dalam koordinasi yang sangat erat dengan Kedutaan Besar AS, Departemen Luar Negeri AS, Pentagon, dan pemerintah Ukraina.

Baca Juga: Daftar 25 Negara yang Tidak Dianggap Bersahabat dengan Rusia, Apakah Indonesia Termasuk? Simak Daftarnya

Beberapa minggu kemudian, Laboratorium Penelitian Forensik Digital Dewan Atlantik, mengkonfirmasi dalam laporan Januari 2018 bahwa Batalyon Azov telah menerima transfer. Dugaan akan adanya hubungan antara Batalyon Azov dan AS, khususnya badan-badan intelijen AS, semakin menguat.

Pada akhir 2021, AS adalah salah satu dari dua negara yang memveto rancangan resolusi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dalam memerangi Nazisme, neo-Nazisme, dan praktik lain yang berkontribusi pada bentuk-bentuk rasisme kontemporer. Sedangkan satu negara lainnya adalah Ukraina.

Di Ukraina, Batalyon Azov juga terkenal karena kejahatannya di wilayah timur. Menurut laporan Kantor Komisaris Tinggi Hak Asasi Manusia PBB pada 2016, Azov dituduh melakukan aksi penggusuran penduduk, setelah menjarah properti milik warga sipil antara November 2015 hingga Februari 2016.

Laporan tersebut juga telah menuduh bahwa Batalyon Azov telah memperkosa dan menyiksa para tahanan di wilayah Donbass selama periode tersebut. Hal tersebut tentunya melanggar hukum internasional serta Perjanjian Minsk.***

Rekomendasi