

inNalar.com – Beberapa tahun belakangan, Arab Saudi tengah membangun sebuah mega proyek kota baru yang dinamakan dengan NEOM City.
Lokasinya berada di wilayah barat laut Kerajaan Arab Saudi.
Dilansir inNalar.com dari neom.com, telah terdapat lebih dari 3.600 staf dari 97 negara yang telah tinggal dan bekerja di kota futuristik tersebut.
Proyek ini dilakukan secara bertahap, dengan OXAGON juga mendapatkan penghuni pertamanya pada tahun 2024 dan TROJENA menjadi tempat tinggal, bekerja dan berlibur pada tahun 2026.
Modul pertama THE LINE akan juga akan diaktifkan pada tahun 2026 dan pada tahun 2030, sekitar satu juta orang akan tinggal di NEOM.
Jumlah penduduk tersebut akan meningkat menjadi 9 juta pada tahun 2045.
Kota futuristik tersebut menghabiskan dana mencapai 500 miliar USD atau setara dengan Rp7,8 kuadriliun.
Dana tersebut bersumber dari dana Investasi Publik dan dana kekayaan negara Arab Saudi.
Namun, dibalik kemegahan kota ini ternyata terdapat sisi gelap dari NEOM.
Baca Juga: Laba Bersihnya Anlok, PT Lautan Luas Tbk (LTLS) Mencatatkan Penurunan Jumlah Utang
Untuk pembangunan kota futuristik NEOM di Arab Saudi banyak pemukiman warga digusur.
Mereka yang menentang rencana pembangunan NEOM ini bisa dijatuhi hukuman penjara yang sangat lama atau bahkan hukuman mati.
Hal tersebut dapat dibuktikan dengan adanya warga suku Howeitat yang tinggal di wilayah yang dialokasikan untuk kota NEOM terpaksa mengungsi dan rumah mereka dihancurkan tanpa kompensasi yang memadai.
Kemudian, terdapat satu warga Howeitat telah terbunuh dan hukuman mati dikenakan pada tiga anggota suku lainnya.
Sementara itu, tiga orang lainnya dijatuhi hukuman penjara 50 tahun atas tuduhan terorisme.
Meski dikenai tuduhan terorisme, mereka juga ditangkap karena menolak penggusuran paksa atas nama proyek Neom dan pembangunan kota linier sepanjang 170 km yang disebut The Line.***