

inNalar.com – Ibu Kota Negara atau IKN sangat menjunjung toleransi terhadap umat beragama yang ada di Indonesia, hal ini dapat dilihat dengan dimulainya pembangunan tempat ibadah Masjid Negara yang pertama diantara 6 agama lainya di kawasan kompleks peribadatan.
Masjid Negara di kawasan IKN dengan desain yang memukau ternyata rancangan dari Nyoman Nuarta yang telah bekerjasama denga arsitek lain dari Head of Studio 3 Alien Desaign Consultan, Prasetyo Condro.
Selain pembangunan tempat ibadah untuk agama Islam, kelima agama lainya juga akan dibangunkan rumah peribadatanya masing-masing.
Baca Juga: Bangkit Dari Kematian, Ikan Purba Ini Berhasil Ditemukan di Lautan Sulawesi Utara
Dalam satu kawasan komplek peribadatan akan terdiri bangunan sakral dari agama Islam, Katolik, Kristen, Hindu, Budha dan Konghucu.
Pembangunan proyek ini menelan anggaran APBN sebesar Rp 940 miliar dengan tender PT Adhi Karya dan PT Hutama Karya sebagai pelaksana pembangunan.
Semua dibangun dengan ukuran yang berbeda-beda, dalam pembangunan proyek pertama, Masjid Negara mempunyai luas kurang lebih 59.000 meter persegi.
Baca Juga: Berdiri Tahun 1.777, Wilayah di Kalimatan Barat Ini Jadi Republik Pertama Sebelum Indonesia
Terdiri dari 3 lantai yang mana 1 lantai bawah sedangkan 2 laintai lainya berada di lantai tengah.
Luasnya bahkan mengalahkan luas bangunan dari Masjid Istiqlal yang berada di Jakarta dengan luas bangunan 24.200 meter persegi namun memiliki luas tanah yang lebih besar dari IKN yaitu sekitar 10 hektar atau 98.247 meter persegi.
Untuk daya tampungnya sendiri masih lebih banyak istqlal yaitu dapat menampung jemaah sekitar 200.000 sedangkan IKN hanya sanggup menampung 61.317 jemaah.
Pada awalnya daya tampung yang bisa diberikan hanya sekitar 25.000 jemaah, tentunya kapasitas ini kurang besar.
Akhirnya kurator dari IKN yaitu Ridwan Kamil ajukan permintaan untuk ditingkatkan dua kali lipat dari yang sebelumnya.
Menteri agama yang menjadabat saat itu Yaqut Cholil Qoumas menyampaikan tentang implementasi filososfi spiritualis nilai kebangsaan dalam nilai keberagaman juga diperlihatkan ke dalam desain pembangunan.
“Masjid Negara di Nusantara setidaknya memiliki dua nilai filosofi:
(1) Desain dari bangunan yang melingkar melambangkan kerukunan berbangsa, bernegara, dan beragama dalam masyarakat Indonesia;
(2) Menjadi simbol penguatan hubungan dengan Tuhan, hubungan antar sesama manusia, serta hubungan dengan alam,” ucap yaqut, dilansir inNalar dari halaman resmi IKN.
Bangunan Spiritual tersebut bisa menjadi wajah baru untuk Provinsi Kalimantan Timur sebagai ikon religi untuk umat muslim.
Bangunan sakral tersebut kemungkinan akan menjadi tempat untuk ibadah utama yang terletak di wilayah KIPP atau Kawasan Inti Pusat Pemerintahan.
Ternyata bangunan ini memmpunyai pembagian menjadi 3 bagian, yaitu kubah utama, minaret dan Plaza Terbuka.
Setiap bagian memiliki makna dan filosofinya tersendiri, Kubah Masjid menggunakan konsep sorban dan berbentuk seperti luar angkasa hal ini menandakan ketidak ada batasan terhadap semesta.
Plaza Terbuka memiliki konsep kekokohan prinsip aksis arah kiblat yang mengarahkan ke Ka’bah yang ada di Mekkah.
Sedangkan yang terakhir adalah bagian minaret, makna yang ada adalah kedinamisan yang menghadirkan pusaran alam semesta menuju keatas atau keilahian.
Pembangunan yang telah berjalan sampai sekarang masih berproses disekitar angka 18,7 persen per bulan agustus 2024.
Diharapkan untuk kedepanya tempat ibadah ini bisa digunakan untuk sholat idul fitri pada tahun 2025.***(Wahyu Adji Nugraha)
Dapatkan promo spesial sebelum Anda pergi