

inNalar.com – Ketika kita menelusuri pola mundurnya pemerintahan era Soeharto dan membandingkannya dengan kemunduran Ir Soekarno, adakah perasaan dejavu?
Meski cara naik tahta kepresidenan Soekarno dan Soeharto sangat berbeda, tidak kah kita merasa ada kesamaan pola yang membuatnya memiliki akhir kisah yang mirip, bahkan serupa.
Menurut A Yogaswara, dalam bukunya yang mengulas tentang Biografi Soeharto, diungkap bahwa persamaan pola transisi kekuasaan Presiden RI ke-2 ini dan Presiden Ir Soekarno memunculkan spekulasi dan rasa penasaran.
Bagaimana bisa Soeharto Sang ‘Koppig’ atau keras kepala, begitu julukan yang diberikan Soekarno kepadanya, membuat dirinya luluh dan menyerah atas kekuasaannya yang telah bertengger selama 32 tahun?
Spekulasi tentang kemunduran dirinya dari jabatan Presiden RI ke-2 memunculkan sebuah pertanyaan analitis, benarkah tak ada campur tangan asing yang melelehkan sikap keras kepala nya itu?
Kecurigaan mengenai siapa sosok di balik keputusan mundurnya Soeharto ini mengarah pada Amerika Serikat (AS).
Pasalnya 2 hari sebelum kemunduran Presiden Soeharto dimungkinkan ada kontak langsung dengan pihak Pemerintah AS.
Namun pihak White House menampik akan hal ini dan justru mengungkapkan bahwa satu-satunya pihak yang menghubung adalah pihak dari Duta Besar Amerika ke Kementerian Pertahanan RI kala itu.
Komunikasi itu pun, menurut pihak Pemerintah AS, dilakukan dalam rangka agar ABRI dapat berupaya semaksimal mungkin untuk bisa menjaga stabilitas negara Indonesia, mengingat banyaknya demo dan aksi tak terduga lainnya pada 1998.
Kali ini lain halnya dengan Michel Camdessus, selaku Direktur Eksekutif IMF. Dalam buku ‘Biografi Daripada Soeharto, diungkap oleh A. Yogaswara mengenai Kudeta Camdessus.
IMF, dalam hal ini diwakili oleh Michel Camdessus justru mengakui bahwa terdapat sebuah permainan yang mendorong presiden Soeharto berada dalam satu kondisi sulit.
Hal tersebut dilakukan untuk menciptakan sebuah kondisi keterpaksaan dalam dirinya seolah tak ada pilihan lagi yang bisa dilakukan kecuali dengan mundur dari kekuasaannya.
Artinya, krisis yang telah berjalan sejak Juli 2007 ini telah menjadi bagian dari rencana terstruktur IMF agar dirinya turun tahta atas kemauannya sendiri.
Sosok tegas dan teguh pada pendiriannya ini, Presiden Soeharto ini sangat membuat berbagai pihak terkejut, karena bagaimana pun keputusan dari akhir kisah kekuasaannya itu hanya ada pada dirinya sendiri.
Apabila dilihat dari kronologinya, sekilas suasananya bagai dejavu saat Ir Soekarno saat ada banyak pihak yang meminta untuk turun tahta, mulai dari para demonstran hingga oposisi politiknya.
Jika sebelumnya Soeharto naik tahta berkat krisis ekonomi di era Soekarno, kemudian diikuti dengan kabar konflik internal militer RI yang menggoyahkan dukungan kepada sang presiden.
Selanjutnya semakin banyak aksi demonstrasi yang tak terkendali semuanya terjadi kembali pada era Soeharto.
Bahkan jika dahulu Supersemar adalah bukti yang dilegitimasi oleh Soeharto atas lengsernya Soekarno, akhir jabatannya yang terlanjur menandatangani surat perjanjian dengan IMF seolah semuanya terulang kembali.
Kesehatan Soeharto yang kian memburuk pun juga sedemikian rupa dengan akhir kisah Soekarno saat menjelang akhir masa jabatannya.
Boleh jadi itulah muncul berbagai misteri mengapa pengamat Barat lebih sering menggunakan istilah ‘jatuhnya Soeharto’ ketimbang ‘mundurnya Soeharto’.
Dejavu transisi kekuasaan antara era Soekarno dengan Soeharto seolah meninggalkan banyak teka-teki bagi para sejarawan dan peneliti.
Apabila dirinya dipandang naik tahta dengan penuh taktik, turunnya pun meninggalkan teka-teki bagi banyak pihak. ***