

inNalar.com – Mega proyek yang berada di Jawa Tengah ini merupakan sebuah bendungan dengan kapasitas mencapai 723 juta meter kubik.
Bendungan yang ada di Jawa Tengah ini bukanlah suatu bendungan baru, namun, sudah dibangun sejak tahun 1985.
Pembangunan bendungan di Jawa Tengah ini memerlukan waktu selama kurang lebih empat tahun sebelum akhirnya selesai pada tahun 1989. Pada tahun yang sama, juga dilakukan pengisian awal dari bendung air ini.
Bendung air di Jawa Tengah ini akhirnya resmi memulai operasi pertamanya setelah diresmikan oleh Presiden Soeharto pada 18 Mei 1991.
Berada di perbatasan antara tiga kabupaten, yakni Grobogan, Sragen, dan Boyolali, bendung ini memiliki manfaat untuk menyalurkan air irigasi ke Daerah Irigasi (DI) seluas 64.365 hektare.
Lokasi tepatnya dari bendungan ini adalah Desa Rambat, Kecamatan Gundih, Grobogan, Jawa Tengah.
Dilansir inNalar.com dari sda.pu.do.id, bendung air ini memiliki tinggi 61 meter dengan panjang mencapai 1.600 meter.
Adapun luas tangkapannya adalah 614 km persegi da luas genangan sekitar 46 km persegi.
Kapasitas tampung yang bendungan di Jawa Tengah ini miliki adalah sekitar 723 juta meter kubik dengan volume efektif sebesar 634,6 juta meter kubik.
Baca Juga: Bantuan Medis di Gaza Terancam Terhenti, Iran Peringatkan Israel untuk Berhenti Sebelum ‘Terlambat’
Meski kapasitas tampungnya terhitung besar, akan tetapi, hal ini menyusut seiring dengan bertambanya waktu.
Pada tahun 2003 lalu, daya tampung yang bendungan ini miliki hanyalah 703 juta meter persegi, menyusut hingga 20 juta meter persegi sejak awal dibangun.
Adapun nama dari mega proyek bendungan yang ada di Jawa Tengah ini adalah Bendungan Kedungombo.
Pembangunan dari Bendungan Kedungombo ini merupakan kolaborasi dari berbagai pihak.
Konsultan perencanaan dari pembangunan bendung air ini adalah SMEC (Snowy Mountain Engineering Corporation) dari Australia.
Kemudian, kontraktornya adalah Hazama Gumi dari Jepang dan PT Brantas Abi Praya dari Indonesia.
Biaya yang dibutuhkan untuk membangun mega proyek ini juga tidak sedikit. Sebesar USD $ 283,1 juta dihabiskan untuk membangun bendung ini.
Biaya sebanyak itu merupakan gabungan dari pinjaman hutang Bank Dunia, bank luar negeri, dan anggaran APBN.
Adapun rinciannya adalah sebagai berikut sebesar USD $ 156 juta merupakan pinjaman dari Bank Dunia, USD $ 25,5 juta dari Bank Exim Jepang, dan sisanya dari kas APBN.
Meski dapat dibangun dengan lancar, akan tetapi, pembangunan bendungan yang dijanjikan untuk memberi kesejahteraan kepada masyarakat ini justru berefek sebaliknya.
Bendungan yang menenggelamkan 37 desa di tujuh kecamatan ini membuat banyak warga desa jatuh ke dalam kemiskinan karena mata pencaharian mereka hilang.
Pembangunan proyek bendung air ini menenggelamkan tidak hanya rumah dan tanah mereka, namun, juga sawah juga kebun tempat mereka mencari pendapatan.
Terdapat setidaknya 4.163 hektare lahan warga yang tenggelam akibat dari pembangunan Bendungan Kedungombo di Jawa Tengah.
Para warga yang kehilangan rumah dan tanah mereka tersebut, tidak hanya direlokasi ke daerah terpencil, tapi juga mengalami proses ganti rugi yang sangat lama.***