Dampak Suhu Panas Ekstrim, 120 Lumba-lumba Mengambang Mati di Sungai Amazon Brazil, Intip Hasil Risetnya

inNalar.com – Terdapat penemuan 120 lumba-lumba mengambang tidak bernyawa di anak sungai Amazon, Brazil.

Para peneliti mengungkap jika kematian ratusan lumba-lumba ini diakibatkan oleh adanya kekeringan yang sangat parah dan menyebabkan suhu menjadi panas.

Peneliti juga mengatakan nantinya terdapat lebih banyak lagi lumba-lumba yang akan mati di perairan Amazon.

Baca Juga: Bikin Bangga, Kota Pontianak Jadi Daerah Pembangunan Terbaik di Kalimantan Barat, Ada Capaian Mentereng!

Para pakar juga menyebut jika rendahnya permukaan yang terdapat di permukaan air sungai menjadi penyebab suhu air melonjak.

Terdapat beberapa bagian yang air sungainya terlalu hangat sehingga menyebabkan spesies air tawar tersebut tidak dapat bertahan.

Dilansir inNalar.com dari Associated Press, Institut Mamiraua merupakan sebuah kelompok penelitian dari Kementerian Sains, Teknologi, dan Inovasi Brasil, mengatakan dua lumba-lumba mati pertama ditemukan pada Senin 2 Oktober 2023.

Baca Juga: Telan Dana APBN Rp880 Miliar, Bendungan di NTT Ini Jadi yang Terbesar se-Indonesia?

Lumba-lumba yang mati mengambang tersebut terdapat di wilayah sekitar Danau Tefe, yang merupakan kawasan penting bagi mamalia dan ikan di wilayah tersebut.

Penelitian mencatat telah terdapat perubahan yang terjadi di sekitar area Danau Tefe yakni suhu air mencapai 39 derajat celcius (102 derajat fahrenheit) dan merupakan suhu tertinggi.

Bangkai lumba-lumba pertama kali muncul ke permukaan kala suhu air Danau Tefe saat itu mencapai 39 derajat celcius dan merupakan 10 derajat lebih tinggi dari rata-rata tahun ini.

Baca Juga: Investasi Rp42 M, Taman Kota di Batam Kepulauan Riau ini Didesain Jadi Tempat Healing Berstandar Internasional

Suhu yang terdapat di danau itu sempat menurun dalam waktu beberapa hari. Namun, kemudian kembali meningkat menjadi 37 derajat.

Miriam Marmontel merupakan seorang peneliti dari Mamiraua Institute mengungkap jika ada sekitar 1.400 lumba-lumba yang hidup di sungai di Danau Tefe.

“Dalam satu minggu kita telah kehilangan sekitar 120 hewan mamalia tersebut, yang mewakili 5 persen hingga 10 persen populasi,” kata Marmontel saat menjelaskan.

Ayan Fleischmann sebagai koordinator Geospasial di Institut Mamirauá berpendapat kekeringan berdampak besar pada komunitas atau biota yang ada di wilayah Amazon.

Fleischmann mengatakan suhu air naik dari 32 C (89 F) pada hari Jumat menjadi hampir 38 C (100 F) pada hari Minggu.

Selain itu para ilmuwan juga sedang melakukan penelitian dengan mempertimbangkan penyebab lain dari kematian ratusan lumba-lumba tersebut, seperti adanya infeksi bakteri.

Lumba-lumba di sungai Amazon ini memiliki warna yang unik, yaitu berwarna merah jambu mencolok.

Spesies ini merupakan spesies air tawar yang unik dan telah masuk ke dalam daftar spesies yang terancam punah.

Hal ini dikarenakan siklus reproduksi yang berjalan lambat sehingga membuat populasi hewan unik mamalia merah tersebut sangat rentan terhadap ancaman.***

Rekomendasi
REKOMENDASI UNTUK ANDA [Tutup]