

inNalar.com – Jembatan terpanjang Padang Pariaman di Sumatera Barat sempat menjadi sorotan publik lantaran badan bangunannya ambruk untuk kedua kalinya.
Padahal, jembatan yang berlokasi di Sumatera Barat ini baru diresmikan oleh pihak Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan dihadiri pula oleh Bupati Padang Pariaman Suhatri Bur pada Kamis, 19 Agustus 2021.
Sementara jembatan yang sempat jadi ikon kebanggaan Padang Pariaman di Sumatera Barat ini digadang jadi proyek percontohan oleh pihak BNPB ambruk setengah badan pada Minggu, 7 Mei 2023.
Baca Juga: Heboh! Shani dan Melody Pandu Langsung Shopee Live Streaming Grand Launching JKT48 Official Store
Artinya, belum genap dua tahun infrastruktur penghubung Lubuk Alung dan Sikabu ini beroperasi dan digunakan masyarakat.
Melansir dari laman BNPB, jembatan yang dinamakan dengan Kayu Gadang Sikabu di Padang Pariaman ini dibangun ulang dengan dana hibah rehabilitasi dan rekonstruksi yang nilainya mencapai Rp25,4 miliar.
Tim BPK Sumatera Barat pun disebut telah mengambil sampel guna menguji kelayakan mutu dan volume pekerjaan sebagai upaya pengawasan proyek pembangunan jembatan bernilai fantastis ini diharap tidak mengulangi kejadian yang sama sebagaimana pada 2017 silam.
Baca Juga: Ormas Pujakesuma Nyatakan Dukungannya untuk Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming di Pilpres 2024
Nilai pembangunan yang dipandang fantastis ini cukup mengundang keraguan sejumlah pihak, apakah benar penyebab ambruknya kembali jalur penghubung transportasi darat ini murni karena terjangan derasnya debit air sungai mengingat sejumlah upaya pengawasan telah dilakukan.
Bahkan sebelum kejadian robohnya Jembatan Kayu Gadang Sikabu di Sumatera Barat ini pada Mei 2023, kejadian ambruk pada Agustus 2017 silam sempat menyebabkan adanya korban luka berjatuhan.
Sebagai gambarannya, konstruksi jembatan ini diketahui memiliki panjang bentang 101,8 meter dan lebarnya melega 7 meter.
Pada kejadian ambruknya jembatan di tahun 2017 tersebut sempat membuat anggota DPRD Sumatera Barat fraksi NasDem, Endarmy sampai meminta aparat hukum mengusut kejadian yang memakan korban tersebut.
Namun infrastruktur yang berhasil dibangun lagi pada tahun 2021 kemudian ambruk kembali pada tahun 2023 ini ambruk dalam kondisi 6 – 7 meter badan jembatannya masih utuh.
Sementara sebagiannya ambruk meski masih tertahan oleh fondasi bangunannya. Kejadian tersebut, diungkap penyebabnya masih berkutat pada faktor derasnya debit air akibat terjangan cuaca ekstrem selama sepekan terakhir.
Beruntungnya, jembatan roboh di Padang Pariaman ini terjadi di malam hari sehingga tidak ada korban jiwa dalam kejadian tersebut.
Akibat kejadian tersebut, Bupatri Suhatri Bur langsung menurunkan instruksi khusus kepada Kepala BPBD dan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) untuk segera mengusulkan perbaikan infrastruktur yang rusak tersebut.
Imbas ambruknya jembatan di Padang Pariaman ini, kegiatan perekonomian dan pendidikan sempat terganggu akibat masyarakat harus memutar jauh untuk bisa melintasi sungai pemisah dua daratan tersebut.
Sejauh ini penyebab yang baru bisa dipastikan masih berkutat pada akibat dari bencana alam.
Namun pihak Kejaksaan Negeri Padang Pariaman diketahui melakukan pengusutan dan pengumpulan data terkait kejadian ambruknya jembatan yang berulang tersebut.
Tindakan tersebut dimaksudkan untuk mengungkap apakah penyebab pasti ambruknya infrastruktur disebabkan murni bencana atau adanya kecacatan dalam proses konstruksi.***