

inNalar.com – Pada awal tahun ini, Harita Nickel berencana membangun Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) di Pulau Obi, Halmahera Selatan, Maluku Utara.
Panen cuan semakin merekah dari hasil pengolahan nikel, perusahaan berkode NCKL ini juga semakin getol transisikan energi listrik operasional smelternya.
Sebagai informasi awalan, perseroan berhasil panen fulus dari sektor produksi pengolahan nikel per kuartal III tahun 2023 sebesar Rp14,86 triliun.
Sementara pendapatan dari sektor penambangan komoditas satu-satunya perusahaan ini bisa mencapai Rp5,49 triliun.
Usai adanya pengurangan beban biayanya, total pendapatan secara keseluruhan yang diperoleh perusahaan tambang ini mencapai Rp17,29 triliun.
Gelimang panen pendapatan Harita Nickel dari sektor pengolahan nikelnya ini tidak menyurutkan komitmen perusahaan untuk mendukung net zero emission 2060.
Baca Juga: Dulunya Kumuh, Kampung di Surabaya Ini Bertransformasi Menjadi Kawasan Tujuan Wisata, Suasananya…
Perlahan tapi pasti, emiten pertambangan dan pengolahan nikel ini bakal siapkan dana jumbo untuk tambah kapasitas listrik bertenaga surya.
Demi tambah kapasitas listrik sebesar 300 Mega Watt peak (MWp), perseroan telah memperhitungkan dana pembangunan PLTS barunya.
Ternyata estimasi anggaran pembangunan yang perlu disiapkan NCKL ini berada di range biaya USD 300 juta hingga USD 450 juta.
Sebagai gambarannya, apabila dirupiahkan maka Harita Nickel perlu ancang-ancang dana setidaknya mulai dari Rp4,5 triliun hingga Rp6,75 triliun.
Direktur Health, Security, and Environment PT Trimegah Bangun Persada Tbk Tonny H Gultom mengungkap bahwa nilai investasi untuk pembangunan PLTS di kawasan smelter di Maluku Utara ini memang bakal makan biaya investasi yang besar.
Sementara signifikansi pasokan listrik yang dihasilkan belum tinggi, tetapi proyek ini tetap dilanjutkan sebagai komitmen perusahaan dalam mengurangi dampak emisi.
Sejauh ini pasokan listrik yang bersumber dari solar panel baru beroperasi 145 Kilo Watt peak (KWp).
Harapannya seiring berjalannya waktu, pasokan listrik operasional smelter nikel yang bakal terus digenjot kapasitas produksinya bakal semakin teralihkan dengan sumber energi bersih.
Adapun sumber pendanaan investasi pembangunan PLTS di Pulau Obi, Maluku Utara ini diproyeksikan menggunakan kas perusahaan.
Baca Juga: Pasang Instalasi PLTS Senilai Rp29,54 Miliar, PT Tunas Alfin Tbk Catatkan Penurunan Jumlah Utang
Tidak menutup kemungkinan sumber pembiayaan perbankan juga bakal menjadi opsi yang bisa diperluas untuk merealisasikan pembangkit listrik ini.
Targetnya pengoperasian sebagiannya bakal dimulai pada awal 2024, sementara untuk operasi penuhnya diproyeksikan setahun setelahnya.***