Ciptakan Komunitas Trabasan? Kampung Popok di Jawa Tengah Ini Hampir Setiap Warganya Punya Motor Trail

InNalar.com – Siapa sangka, di pedalaman provinsi Jawa Tengah terdapat kawasan terpencil bernama Kampung Popok, di mana masyarakatnya rata-rata memiliki motor trail. 

Kampung Popok ini berlokasi di puncak Gunung Gajahmungkur yang termasuk bagian dari Dusun Temulus, Desa Kaloran, Kecamatan Selogiri, Kabupaten Wonogiri, Provinsi Jawa Tengah. 

Pemukiman unik ini menjadi salah satu daerah terpencil yang mayoritas perumahannya masih sangat sederhana dan bernuansa adat khas Jawa. 

Baca Juga: Dulu Koin Belanda Ini Sering Jadi Alat Kerokan Orang Indonesia, Kini Harga Benggol Capai Ratusan Juta Rupiah

Saking terpencilnya, kampung popok bahkan belum tersentuh GPS (Global Positioning System) dengan tepat sehingga jalanan sulit dilalui, terutama oleh pemula. 

Akibatnya, jika menggunakan GPS dan terus berpacu ke sana tanpa bertanya kepada warga setempat, sering kali para pengunjung justru malah tersesat di jalanan. 

Di samping itu, kondisi jalanannya pun cenderung naik dan terjal yang sering kali membuat para pengunjung tidak bisa melanjutkan perjalanan sendiri atau memilih meminta bantuan. 

Baca Juga: UMR Sulawesi Barat 2025 Naik Jadi Rp 3,1 Jutaan, Segini Besaran UMK Polewali Mandar hingga Mamuju

Oleh karenanya, melansir Youtube Jejak Richard, pada Jumat (13/12), masyarakat setempat hampir rata-rata memiliki kendaraan berupa motor trail.

Banyaknya motor trail di area pemukiman pelosok Jawa Tengah ini sepintas terbayang seperti komunitas trabasan, atau mereka yang gemar track-trackan dan mengendarai motor trail. 

Padahal, warga Kampung Popok memiliki kendaraan tersebut bukan sebagai hobby atau gegayaan, tetapi untuk menunjang aktivitas mereka sehari-hari. Seperti mengangkut rumput dan kegiatan lainnya. 

Baca Juga: Kembali ‘Rayu’ Pemerintah, Raksasa Tambang Papua Ini Minta Kelonggaran Izin Ekspor Konsentrat Tembaga

Namun, tentu tak cukup dengan motor trail, kondisi kemiringan di Kampung Popok Jawa Tengah  ini menjadi salah satu faktor rawannya terjadi bencana alam.

Seperti halnya bencana longsor, sehingga masyarakat yang berada di sana perlu memiliki sikap adaptif yang lebih peka dan tetap harus waspada setiap saat. 

Bahkan, karena begitu ekstremnya, sebagian masyarakat kampung pelosok Jawa Tengah ini setelah menikah dengan orang di desa lain memilih berpindah demi keselamatan.

Baca Juga: Rumah Melayang di Atas Awan Nusa Tenggara Timur, Kampung Unik Ini Digelari Kota Kecil Tercantik di Dunia

Sementara, sebagiannya lagi karena prinsip yang kuat dan berbagai faktor lainnya memilih menetap tinggal di sana dan menghadapi segala tantangan alam yang ada. 

Selain itu, karena berada di area puncak pegunungan, jalanan di perkampungan ini banyak ditemukan anjing yang berkeliaran.

Hal tersebut sengaja dihadirkan oleh warga setempat dalam rangka menakut-nakuti monyet yang sering kali berdatangan dan membuat onar di wilayah pemukiman.

Namun, bisa karena terbiasa rupanya dan setiap ada kesulitan tersimpan juga kebahagian, buktinya masih terdapat penduduk yang betah dan memilih tinggal di Kampung Popok. 

Melansir YouTube Feri Ngevlog, pada Jumat (13/12), jumlah penduduk Kampung Popok yaitu sebanyak 14 KK (Kepala Keluarga) atau sekitar 90 jiwa dan terdiri dari 14 rumah. 

Baca Juga: Rumah Melayang di Atas Awan Nusa Tenggara Timur, Kampung Unik Ini Digelari Kota Kecil Tercantik di Dunia

Mayoritas masyarakatnya berprofesi sebagai buruh dan sebagiannya lagi sebagai petani. Adapun jenis tumbuhan yang ditanam biasanya yaitu padi, kacang, singkong, jagung, dan lain-lain.

Meski berada di atas gunung dan termasuk pelosok, kawasan curam ini tidak kesulitan air karena dekat dengan sumber air lokal yang memadai. 

Selain itu, meskipun layanan GPS masih belum tepat sasaran patokannya, tetapi masyarakat di puncak ini sudah memiliki akses internet. 

Bahkan, layanan listrik sudah dipasang dan tersedia dipakai oleh masyarakat Kampung Popok semenjak dari tujuh tahun yang lalu.

Adapun bangunan rumah-rumahnya tampak sederhana dan dibuat dengan nuansa ciri khas Jawa yang menarik dan ikonik seperti berada di atas awan karena ketinggiannya. 

Di salah satu bagiannya juga terdapat sebuah mushala dengan kondisi cukup bagus yang sering digunakan oleh masyarakat setempat untuk beribadah. 

Demikian itulah keunikan Kampung Popok yang memiliki medan jalan terjal sehingga masyarakatnya tertuntut untuk memiliki motor trail untuk menunjang aktivitas berat.***

Ciptakan Komunitas Trabasan? Kampung Popok di Jawa Tengah Ini Hampir Setiap Warganya Punya Motor Trail

InNalar.com – Siapa sangka, di pedalaman provinsi Jawa Tengah terdapat kawasan terpencil bernama Kampung Popok, di mana masyarakatnya rata-rata memiliki motor trail. 

Kampung Popok ini berlokasi di puncak Gunung Gajahmungkur yang termasuk bagian dari Dusun Temulus, Desa Kaloran, Kecamatan Selogiri, Kabupaten Wonogiri, Provinsi Jawa Tengah. 

Pemukiman unik ini menjadi salah satu daerah terpencil yang mayoritas perumahannya masih sangat sederhana dan bernuansa adat khas Jawa. 

Baca Juga: Dulu Koin Belanda Ini Sering Jadi Alat Kerokan Orang Indonesia, Kini Harga Benggol Capai Ratusan Juta Rupiah

Saking terpencilnya, kampung popok bahkan belum tersentuh GPS (Global Positioning System) dengan tepat sehingga jalanan sulit dilalui, terutama oleh pemula. 

Akibatnya, jika menggunakan GPS dan terus berpacu ke sana tanpa bertanya kepada warga setempat, sering kali para pengunjung justru malah tersesat di jalanan. 

Di samping itu, kondisi jalanannya pun cenderung naik dan terjal yang sering kali membuat para pengunjung tidak bisa melanjutkan perjalanan sendiri atau memilih meminta bantuan. 

Baca Juga: UMR Sulawesi Barat 2025 Naik Jadi Rp 3,1 Jutaan, Segini Besaran UMK Polewali Mandar hingga Mamuju

Oleh karenanya, melansir Youtube Jejak Richard, pada Jumat (13/12), masyarakat setempat hampir rata-rata memiliki kendaraan berupa motor trail.

Banyaknya motor trail di area pemukiman pelosok Jawa Tengah ini sepintas terbayang seperti komunitas trabasan, atau mereka yang gemar track-trackan dan mengendarai motor trail. 

Padahal, warga Kampung Popok memiliki kendaraan tersebut bukan sebagai hobby atau gegayaan, tetapi untuk menunjang aktivitas mereka sehari-hari. Seperti mengangkut rumput dan kegiatan lainnya. 

Baca Juga: Kembali ‘Rayu’ Pemerintah, Raksasa Tambang Papua Ini Minta Kelonggaran Izin Ekspor Konsentrat Tembaga

Namun, tentu tak cukup dengan motor trail, kondisi kemiringan di Kampung Popok Jawa Tengah  ini menjadi salah satu faktor rawannya terjadi bencana alam.

Seperti halnya bencana longsor, sehingga masyarakat yang berada di sana perlu memiliki sikap adaptif yang lebih peka dan tetap harus waspada setiap saat. 

Bahkan, karena begitu ekstremnya, sebagian masyarakat kampung pelosok Jawa Tengah ini setelah menikah dengan orang di desa lain memilih berpindah demi keselamatan.

Baca Juga: Rumah Melayang di Atas Awan Nusa Tenggara Timur, Kampung Unik Ini Digelari Kota Kecil Tercantik di Dunia

Sementara, sebagiannya lagi karena prinsip yang kuat dan berbagai faktor lainnya memilih menetap tinggal di sana dan menghadapi segala tantangan alam yang ada. 

Selain itu, karena berada di area puncak pegunungan, jalanan di perkampungan ini banyak ditemukan anjing yang berkeliaran.

Hal tersebut sengaja dihadirkan oleh warga setempat dalam rangka menakut-nakuti monyet yang sering kali berdatangan dan membuat onar di wilayah pemukiman.

Namun, bisa karena terbiasa rupanya dan setiap ada kesulitan tersimpan juga kebahagian, buktinya masih terdapat penduduk yang betah dan memilih tinggal di Kampung Popok. 

Melansir YouTube Feri Ngevlog, pada Jumat (13/12), jumlah penduduk Kampung Popok yaitu sebanyak 14 KK (Kepala Keluarga) atau sekitar 90 jiwa dan terdiri dari 14 rumah. 

Baca Juga: Rumah Melayang di Atas Awan Nusa Tenggara Timur, Kampung Unik Ini Digelari Kota Kecil Tercantik di Dunia

Mayoritas masyarakatnya berprofesi sebagai buruh dan sebagiannya lagi sebagai petani. Adapun jenis tumbuhan yang ditanam biasanya yaitu padi, kacang, singkong, jagung, dan lain-lain.

Meski berada di atas gunung dan termasuk pelosok, kawasan curam ini tidak kesulitan air karena dekat dengan sumber air lokal yang memadai. 

Selain itu, meskipun layanan GPS masih belum tepat sasaran patokannya, tetapi masyarakat di puncak ini sudah memiliki akses internet. 

Bahkan, layanan listrik sudah dipasang dan tersedia dipakai oleh masyarakat Kampung Popok semenjak dari tujuh tahun yang lalu.

Adapun bangunan rumah-rumahnya tampak sederhana dan dibuat dengan nuansa ciri khas Jawa yang menarik dan ikonik seperti berada di atas awan karena ketinggiannya. 

Di salah satu bagiannya juga terdapat sebuah mushala dengan kondisi cukup bagus yang sering digunakan oleh masyarakat setempat untuk beribadah. 

Demikian itulah keunikan Kampung Popok yang memiliki medan jalan terjal sehingga masyarakatnya tertuntut untuk memiliki motor trail untuk menunjang aktivitas berat.***