China akan Memblokir Siaran Liga Premier Inggris Akhir Pekan Ini, Kenapa?

inNalar.com – China dikabarkan akan memblokir siaran Liga Premier Inggris, menyusul aksi solidaritas terhadap Ukraina yang akan dilakukan oleh klub-klub EPL. Departemen Penyiaran Republik Rakyat China, diketahui akan memulai pemblokiran tayangan Liga Inggris di negara tersebut pada akhir pekan ini.

Pemblokiran tersebut berkaitan dengan Liga Premier yang berencana menunjukkan aksi solidaritasnya terhadap rakyat Ukraina setelah invasi Rusia. Beberapa di antaranya adalah dengan pemakaian ban kapten kuning dan biru, yang menjadi simbol bendera Ukraina, serta pesan dukungan lainnya di lapangan hijau.

Selain spanduk “Football Stands Together” yang akan ditampilkan di beberapa laga EPL, simbol solidaritas terhadap Ukraina yang lain di antaranya adalah kapten klub yang akan mengenakan ban lengan dengan warna bendera Ukraina. Akan ada juga aksi “One Minutes Silence” yang berlangsung sebelum kick-off.

Baca Juga: Persib vs Persiraja, Robert Albert Sebut Maung Bandung akan Bermain Tanpa Beckham dan Tiga Pemain Inti Lainnya

Berbagai aksi solidaritas tersebut akan ditampilkan dalam seluruh siaran internasional dari semua pertandingan Liga Premier Inggris.

Namun mitra siaran EPL di China, IQIYI Sports, telah memberi tahu kepada pihak EPL bahwa pertandingan-pertandingan itu tidak akan disiarkan di negara tirai bambu tersebut.

Ini bukan pertama kalinya Departemen Penyiaran China memblokir siaran Liga Premier. Pada tahun 2019, pertandingan yang melibatkan Arsenal tidak ditayangkan di jaringan TV China setelah kapten The Gunners saat itu, Mesut Ozil, sering mengkritik perlakuan China terhadap Muslim Uighur.

Pada 2020, Bloomberg melaporkan bahwa pemegang hak siar Liga Premier Inggris di China, CCTV, tidak jadi menayangkan Big Match Liga Inggris.

Hal ini sebagai respon terkait keputusan pemerintah Inggris untuk melarang perusahaan China, Huawei, untuk masuk ke dalam jaringan 5G di Inggris. CCTV kemudian diketahui tidak melanjutkan kesepakatan hak siar dengan Premier League.

IQIYI sebagai pemegang hak siar EPL di China saat ini, sebelumnya telah menyetujui kontrak tiga tahun untuk hak siar eksklusif Premier League.

Meskipun nilai kesepakatan itu tidak diungkapkan, namun nilai tersebut diyakini jauh lebih rendah dari yang disepakati dengan PPTV, pemegang hak siar EPL sebelumnya.

Pada Kamis, 3 Maret 2022, kepala eksekutif Premier League, Richard Masters, mengkonfirmasi bahwa mereka sedang mengevaluasi kembali kontrak siaran EPL di Rusia. “Jelas sedang ditinjau,” kata Masters.

“Saya ingin orang-orang Rusia lebih sensitif. Kami akan melihatnya dengan cermat, penangguhan dan penghentian (siaran EPL). Kami sedang melihatnya (evaluasi) sekarang,” ungkap Masters.

Baca Juga: Roman Abramovich Resmi Jual Chelsea, Siapa Saja Miliarder yang Tertarik untuk Mengambil Alih The Blues

Sementara itu, pemerintah China mengatakan akan terus melanjutkan kerja sama perdagangan dengan Rusia, meskipun Rusia melakukan invasi ke Ukraina. China, yang khawatir dengan kekuatan Amerika di Asia, semakin menyelaraskan kebijakan luar negerinya dengan Rusia untuk menantang pengaruh Barat.

Selain itu, sebuah laporan intelijen di awal pekan ini mengklaim, bahwa pejabat senior China telah mengatakan kepada Pemerintah Rusia agar menunda pengiriman pasukan ke Ukraina hingga Olimpiade Musim Dingin Beijing berakhir.

The Times melaporkan, bahwa laporan intelijen tersebut menjadi indikasi bahwa pejabat senior China tersebut telah mengetahui rencana Rusia untuk menyerang Ukraina, sebelum Moskow meluncurkan operasi militer ke ukraina pekan lalu.

Namun di sisi lain, China juga memiliki hubungan yang baik dengan Ukraina, dan tetap menghargai stabilitas keamanan negara tersebut.

Baca Juga: Viral, Mohammed Rashid Jelaskan Alasannya Menolak Foto dengan Spanduk Stop War: Ini Sangat Tidak Adil

Pada Januari lalu, Presiden Xi Jinping diketahui telah memperingati 30 tahun hubungan diplomatic China dengan Ukraina. Xi juga memuji hubungan diplomatik yang mendalam antara kedua negara tersebut.***

Rekomendasi