[Cerpen] Tukang Rias Wajah

 

inNalar.com – Kehebatanku sebagai tukang rias wajah sudah terkenal seantero kota. Hampir separuh pernikahan yang pernah digelar di kota ini menggunakan jasa riasku. Ya, itu memang tugasku. Membuat pengantin terlihat cantik dan menawan di hari bahagianya. Seluruh pengantin yang pernah aku rias, tak pernah sedikitpun terlihat cacat dan jelek pada riasannya. Tentu saja, karena aku bertanggung jawab atas tugasku.

Hari itu, aku mendapatkan telepon dari seseorang yang tidak kukenal. Sebenarnya, aku merasa agak malas untuk menerima telepon. Terlebih lagi hari ini aku sangat bad mood karena aku baru saja diputusin oleh pacarku. Seharian itu aku menangis sampai membuat suaraku habis.

Namun karena takut ada hal yang penting, aku pun mengangkat telepon itu setelah memastikan nada suaraku baik-baik saja.

Baca Juga: [Cerpen] Tabir

“Halo?”, suara seorang perempuan dari ujung telepon. Aku tidak mengenali suaranya.

Setelah aku menanyakan siapa dirinya, perempuan yang meneleponku itu mengaku mendapatkan nomor teleponku dari seorang kerabatnya. Ia memintaku untuk meriasnya di hari bahagianya dua minggu dari sekarang karena mendengar beberapa testimoni bahwa hasil riasanku bagus dan cantik untuk resepsi pernikahan. Mataku menerawang berpikir apakah aku ada jadwal untuk merias pengantin dalam dua minggu ke depan.

“Baiklah,” kataku menerima permintaannya.

Setelah memberikan alamatnya, perempuan bernama Ranti itu pun menutup teleponnya.

Baca Juga: [Cerpen] The Same Person

Sesuai jadwal, dua pekan kemudian aku menuju rumah Ranti. Jarak rumahnya tidak terlalu jauh dari tempat tinggalku. Hanya berkisar lima kilo meter dari rumahku. Aku ke sana mengendarai sepeda motor sambil membawa peralatan make up-ku.

Pagi-pagi sekali aku sudah sampai di sana. Tenda berwarna putih dan pink mendominasi dekorasi pernikahan klienku itu. Aku memasuki gerbang rumahnya dan kulihat perlengkapan pernikahan seperti meja prasmanan, kursi tamu, foto booth, dan lain-lain sudah siap.

Ketika aku melihat foto prewedding Ranti dengan calon suaminya itu dipajang di dekat meja tamu, seketika aku terperanjat. Wajah ini … wajah laki-laki calon suami Ranti ini adalah Robby, mantan kekasihku yang memutuskan hubungan denganku dua minggu lalu.

Baca Juga: [Cerpen] Demi Ketenaran

Untuk memastikan lebih jauh lagi bahwa itu adalah benar Robby, aku kenakan kacamataku. Tidak salah lagi, laki-laki ini adalah Robby. Seketika darahku mendidih. Ternyata alasan Robby meninggalkanku adalah demi menikahi Ranti. Robby meninggalkanku dua minggu sebelum pernikahannya. Yang artinya, dia sudah selingkuh dengan Ranti sebelum akhirnya memutuskanku. Pikirkan saja, mana bisa sebuah pernikahan dipersiapkan dan diurus dalam waktu selama dua minggu saja?

“Mbak Nilam, ya? Aku Ranti. Ayo masuk, Mbak. Aku udah nggak sabar mau didandanin cantik sama Mbak Nilam,” seru Ranti yang muncul dari dalam rumah.

Dedikasiku sebagai tukang rias wajah pengantin runtuh seketika ketika tahu bahwa klienku ini adalah perebut Robby, mantan kekasihku. Dan dengan tidak punya rasa malu, ia memintaku untuk mendandaninya menjadi pengantin yang cantik.

Namun kali ini aku bertekad untuk membuat hasil riasan yang buruk pada pengantin ini. Akan kubuat wajahnya dipenuhi bedak yang sangat tebal dan akan aku buat sedikit belang pada kulitnya. Foundation-nya pun akan kubuat cemong tidak merata. Hahaha! Alisnyapun akan kuukir dengan asal-asalan, kalau perlu kurontokkan saja seluruh bulu di alisnya. Lipstiknya, ah … kuberi warna hitam saja sampai ke gigi-giginya. Tentu saja aku tidak akan ragu melakukan itu karena yang aku rias adalah calon istri dari mantan kekasihku.*** 

Rekomendasi
REKOMENDASI UNTUK ANDA [Tutup]